Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Yusuf Asyβari mengusulkan agar BTN menjadi policy bank (bank khusus) di sektor perumahan.
Menurutnya, peran BTN sebagai bank yang mengkhususkan diri pada pembiayaan perumahan bersubsidi sangatlah signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menpera juga menyebutkan betapa membantunya BTN dalam pengadaan subsidi perumahan ketika dana subsidi tahun 2007 telah habis.
"Anggaran subsidi tahun 2007 sudah habis pada bulan September untuk subsidi perumahan, akan tetapi program KPR bersubidi tetap bisa jalan sampai akhir tahun 2007 yang tidak lepas dari peran BTN yang menalangi keuangan tersebut," katanya.
Yusuf mengatakan saat ini isu pokok bagi kementerian negara perumahan rakyat bukanlah mengenai akuisisi BTN tapi bagaimana memperkuat modal BTN sehingga bank ini dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Permodalan BTN masih sangat kecil, tapi pendapat saya BTN adalah bank yang sehat bila dibandingkan dengan bank pemerintah lain," ujarnya.
Karena itu, lanjut Menpera, BTN sebaiknya tidak hanya melakukan IPO atau penerbitan obligasi, tapi perlu ada penambahan modal dari penyertaan pemerintah.
"Rasanya posisi BTN sebagai stand alone bank yang berfokus pada pembiayaan perumahan sudah pas. Jadi saya mengusulkan agar BTN ditetapkan sebagai policy bank dengan foksus pada perumahan rakyat sehingga tetap stand alone," tutur Menpera.
Menpera juga meminta kepada BI untuk merevisi aturan SPP agar disesuaikan sehingga BTN tetap stand alone.
Sebelumnya, pemerintah memang serius membahas rencana pembentukan bank pembangunan atau policy bank. Tapi policy bank ini diarahkan untuk membiayai proyek-proyek jangka panjang seperti infrastruktur.
Policy bank yang akan dibentuk ini lingkup bisnis dan kewenangannya seperti Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dulu sebelum dimerger ke Bank Mandiri.
Indonesia saat ini belum memiliki bank yang khusus mendanai program-program pembangunan pemerintah jangka panjang seperti infrastruktur dan pertanian. (ir/qom)











































