"Tidak ada kekhawatiran soalnya bisnis lagi bagus, suku bunga relatif rendah, pertumbuhan dan kondisinya masih menggembirakan. Kami optismistik pertumbuhan di luar Jawa masih tinggi," kata Wadirut BII, Sukatmo Padmosukarso disela-sela acara Perbanas di Hotel Shangri-la, Jakarta, Selasa (26/2/2008).
Temasek yang merupakan pemegang saham pengendali BII melalui Fullerton Financial Holdings Pte Ltd (FFH) memutuskan untuk menjual sahamnya sesuai dengan Peraturan Kepemilikan Tunggal (SPP).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FFH melalui konsorsium Sorak menguasai 55,85% saham BII. FFH masih terkait dengan Temasek yang juga memiliki saham di Bank Danamon. Sehingga Temasek harus memilih salah satu BII atau Danamon.
Konsorsium Sorak terdiri dari FFH 55%, Kookmin Bank 25% dan ICD Financial Group Holdings Limited 20%.
"Nantinya kontrolnya berubah dari Temasek ke bukan Temasek. Saya kira mereka sedang mengevaluasi itu," kata Sukatmo.
Sukatmo mengaku tidak tahu, apakah selepas dijual Temasek, BII akan tetap mayoritas dimiliki asing. "Saya belum tahu nanti akan kami umumkan pada waktunya ya paling lambat 2010. Kami belum tahu karena prosesnya diumumkan dulu, dilapor ke BI langkahnya baru pelaksanaan. Kapan selesainya ya kecuali 2010 pasti harus selesai," urai Sukatmo.
Mengenai kabar Faralon yang ikut mengincar BII, Sukatmo menjawab," Gak tau, belum dengar".
BII juga menegaskan penjualan saham oleh Fullerton tidak akan berpengaruh pada anak usahanya PT Wahana Ottomitra Multifinance Tbk (WOM Finance).
"Karena itu investasi strategis dari BII jadi proyeksi pertumbuhan anak perusahaan kami masuk dalam rencana bisnis. Jadi tidak ada kaitannya dengan divestasi Fullerton," tuturnya. (ir/qom)











































