Migrasi Kartu Kredit Bukan Obat

Migrasi Kartu Kredit Bukan Obat

- detikFinance
Selasa, 26 Feb 2008 13:50 WIB
Jakarta - Migrasi kartu kredit dari magnetik ke chip dinilai tak bisa menjadi obat untuk mengatasi berbagai masalah kejahatan kartu kredit. Setiap teknologi baru pasti akan diikuti kecanggihan metode pembobolan.

Menurut Praktisi Perbankan Jos Luhukay, permintaan BI untuk mempercepat migrasi kartu kredit sebelum 2010 memang merupakan salah satu upaya untuk mengatasi berbagai masalah kejahatan kartu kredit yang akhir-akhir ini meningkat.

"Tapi itu tidak bisa menjadi obat semua masalah, karena teknologi pasti menimbulkan lagi upaya dan gagasan baru untuk menjebolnya," jelas Jos disela-sela acara Perbanas di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (26/2/2008).

Dan Indonesia, menurut Jos, selalu mengekor negara-negara lain terutama AS dalam hal teknologi ataupun cara pembobolannya.

"Umumnya seperti di Indonesia adalah masalahnya kita ini sebagai buntut dari kepala yang ada di AS dan kawasan lain yang menerapkan teknologi dan cara penjebolannya, kita di buntut selalu. Mungkin lebih aman di buntut memang, kita tidak jadi pemimpin, jadi tetap saja di belakang," jelasnya.

Hal lain yang bisa meminimalisir kejahatan kartu kredit, menurut Jos, nasabah yang bersangkutan juga harus meningkatkan kehati-hatian.

"Nasabah harus memeriksa transaksi setiap kali ada laporan bank mengenai transaksi kartu kredit dan melihatnya benar atau tidak, kalau tidak cepat lapor jangan didiamkan. Karena begitu didiamkan maka akan tambah marak masalahnya," jelasnya.

Bank juga diharapkan cepat merespons pengaduan dari nasabah, dan segera memblokir transaksi jika memang tidak dilakukan oleh nasabah yang bersangkutan.

Sementara Bank Indonesia, sebagai regulator bisa menyelesaikan masalah dengan mempercepat penerapan teknologi baru.

"Tapi isu yang lebih marak lagi adalah kapan bisa dihukum, UU-nya mesti cepat ada, kalau tidak ya tetap empuk. Soal chip tetap saja teknologi boleh saja maju, malingnya juga akan lebih maju lagi. Memang aman tapi biayanya untuk menerapkan itu bukan main tingginya, sehingga pertanyaannya apakah worthed atau tidak," tegas Jos.

Ditemui ditempat yang sama, Sukatmo Padmosukarso, Wakil Dirut BII mengatakan, pihaknya sudah mulai melakukan migrasi ke kartu chip sejak tahun lalu sehingga sudah masuk anggaran rutin. Nasabah kartu kredit BII sejauh ini juga belum terkena dampak oleh maraknya kejahatan kartu kredit akhir-akhir ini. BII saat ini tercatat memiliki pemegang kartu kredit hingga 400 ribu nasabah, dengan portofolio mencapai Rp 1,1 triliun.

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads