"Pertama, BI harus menurunkan jumlah simpanan dalam SBI yang saat ini sudah mencapai Rp 270 triliun. Tujuannya agar tidak terjadi peningkatan penumpukan dana yang tidak tersalurkan (bubble economy)" ujar Chief Economist BNI, Tony Prasetiantono, dalam diskusi di MU Cafe, Sarinah, Jakarta, Selasa (4/3/2008).
PR kedua BI adalah meningkatkan penyaluran kredit ke sektor riil. BI harus bisa mendorong perbankan menyalurkan kreditnya ke sektor rill.
"Namun ini juga memerlukan dukungan dari pertumbuhan sektor riil, supaya ada tempat penyalurannya. Karena salah satu hambatan penyaluran lending ke sektor ini, disebabkan kurangnya enterpreneurship di sektor riil," ujar Tony.
Ketiga adalah, BI mampu melakukan koordinasi kebijakan moneter dengan fiskal dan sektor riil. Tony mengatakan, hal ini sangat penting untuk mewujudkan instrumen ekonomi yang seimbang di Indonesia.
"Salah satu masalah di Indonesia adalah kurangnya koordinasi antar lembaga-lembaga ekonomi. Jadi sangat penting menciptakan hubungan yang sejalan antara instrumen moneter, fiskal dan sektor riil," ujar Tony.
(dro/qom)











































