"Enggak, enggak, kita sudah terlalu banyak bank," kata Menneg BUMN Sofyan Djalil, usai pelantikan direksi Pertamina di kantornya, gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (5/3/2008).
Temasek yang memiliki BII melalui Fullerton Financial Holdings Pte Ltd (FFH) akan melepas sahamnya untuk memenuhi aturan kebijakan kepemilikan tunggal Bank Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara terpisah Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo menyatakan perseroan belum berminat membeli saham BII dari Temasek. Waktu untuk melakukan pengkajian terlalu mendesak sehingga manajemen Bank Mandiri masih belum berani untuk mengambil keputusan.
Sebagai bank terbesar di Indonesia, Mandiri memang berkeinginan untuk melakukan pertumbuhan secara non organik melalui akuisisi.
Namun kata Agus sulit untuk membuat keputusan jika waktu yang diberikan kepada Mandiri sedemikian singkat. "Kan kita perlu menjunjung tinggi good corporate governance dan prinsip kehati-hatian karena itu perlu waktu, kita lihat jangka waktunya tidak memungkinkan kita untuk memutuskan," ujarnya.
Sedangkan Dirut BNI Gatot M Suwondo mengatakan, pihaknya tidak tertarik membeli saham BII karena dinilai tidak akan memberikan sinergi yang bagus bagi BNI.
Sedikitnya ada dua alasan mengapa BNI enggan membeli saham BII. Pertama, harganya yang terlalu mahal. Kedua, sinergi yang kurang bagus jika BNI mengakuisisi BII.
(ir/ddn)











































