Raden Pardede Tak Mau BI Jadi Tempat Cari Untung

Raden Pardede Tak Mau BI Jadi Tempat Cari Untung

- detikFinance
Senin, 10 Mar 2008 11:55 WIB
Raden Pardede Tak Mau BI Jadi Tempat Cari Untung
Jakarta - Calon gubernur Bank Indonesia Raden Pardede mengungkapkan perlunya meningkatkan kompetensi bank sentral tersebut. Raden menyoroti pentingnya kredibilitas BI.

Dalam proses fit and proper test yang digelar Komisi XI DPR, Senin (10/3/2008), Raden menjelaskan visinya yang ingin menciptakan kredibilitas BI menjadi terpercaya dengan independensi yang akuntabel untuk mengiringi pembangunan ekonomi ditengah ekonomi global yang labil.

Sedangkan untuk misinya Raden ingin meningkatkan kompetensi BI, profesionalisme, motivasi di jajaran BI. Serta melakukan sinergi kebijakan terhadap kebijakan-kebijakan lainnya untuk menjaga stabilitas ekonomi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk itu BI harus menjadi tempat bagi orang-orang yang tidak mencari keuntungan pribadi, tapi menjadi tempat pemimpin yang baik dan bijak untuk kemaslahatan bangsa," kata Raden.

Raden juga menyoroti kondisi sekarang ini dengan beberapa tantangan dan ancaman ke depan. Seperti gejolak harga dunia dan keselamatan ekonomi global yang belum diketahui pasti sejauh mana dampaknya.

Wakil Dirut PPA ini juga menyentil masalah subprime mortgage yang telah mempengaruhi impor negara AS terhadap negara lainnya. Faktor harga komoditas yang naik cepat juga menurutnya, telah menyebabkan para spekulan beralih ke pasar komoditas.

Tingginya harga komoditas dikhawatirkan akan menjadi tantangan dalam konversi biofuel ke depannya.Solusinya menurut Reden, perlu juga adanya pemulihan psikologis pada pelaku pasar ekonomi dan moneter menghadapi gejolak ekonomi global. Kedua, mengurangi risiko pembiayaan APBN.

"Ini perlu menjadi prioritas penting karena apabila APBN tidak aman kepercayaan investor akan runtuh," katanya.

Untuk masalah internal BI yang terkait kompetensi, integritas, transparansi, akuntabilitas, menurut Raden kebersamaannya sudah cukup baik. Namun perlu adanya leadership yang lebih baik lagi.

Dia juga menyoroti perlunya sistem pembayaran yang lebih efisien sehingga transaksi moneter bisa lebih handal lagi.

Juga perlu adanya peran BI terhadap UKM, pengembangan sistem keuangan syariah agar bisa menjadi alternatif investor yang menggunakan investasi syariah.

"Di Malaysia dan Singapura pun bisa kenapa di Indonesia tidak," katanya.

(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads