Surplus Neraca Pembayaran RI Turun Jadi US$ 12,5 M

Surplus Neraca Pembayaran RI Turun Jadi US$ 12,5 M

- detikFinance
Senin, 10 Mar 2008 18:23 WIB
Jakarta - Selama tahun 2007, surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencapai US$ 12,5 miliar. Angka itu berarti turun dibandingkan NPI tahun 2006 yang mencapai U$ 14,5 miliar.

"Hal ini disebabkan penurunan surplus transaksi modal dan keuangan menjadi US$ 2,8 miliar pada 2007 dibandingkan US$ 2,9 miliar pada 2006," ujar Kepala Biro Humas BI Filianingsih Hendarta dalam siaran persnya, Senin (10/3/2008).

Khusus untuk NPI pada triwulan IV-2007 mencatat surplus US$ 3,4 miliar, atau meningkat dibandingkan surplus pada triwulan IV-2006 yang mencapai US$ 2,7 miliar. Sejalan dengan itu, cadangan devisa pada akhir Desember 2007 meningkat menjadi US$ 56,9 miliar) atau setara dengan kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 5,7 bulan.

Surplus NPI tersebut berasal dari surplus transaksi berjalan sekitar US$ 3,4 miliar dan surplus transaksi modal dan keuangan sekitar US$ 0,5 miliar. Surplus transaksi berjalan pada periode ini lebih besar dari surplus pada periode yang sama tahun 2006. Kenaikan surplus tersebut disebabkan oleh pertumbuhan ekspor nonmigas yang masih lebih tinggi dibandingkan impor nonmigas.

Sementara itu, surplus yang terjadi pada transaksi modal dan keuangan selama periode ini tercatat lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2006. Hal tersebut disebabkan adanya arus keluar modal portofolio yang cukup besar pada November 2007. Perkembangan ini diperkirakan terkait dengan krisis subprime mortgage di Amerika Serikat yang dampaknya masih dirasakan hingga kini.

Dijelaskan, dari sisi kewajiban, kinerja transaksi modal dan keuangan sepanjang tahun 2007 lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini tercermin pada kenaikan arus masuk modal asing dalam jumlah yang signifikan, baik berupa PMA, modal portofolio, maupun penarikan utang luar negeri swasta.

"Peningkatan arus masuk modal asing tersebut sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi domestik, membaiknya iklim investasi, selisih suku bunga yang menarik, dan kestabilan makroekonomi yang terjaga," jelas Filianingsih.

Namun, diakuinya, ada peningkatan dari sisi lain penempatan aset di luar negeri oleh swasta domestik dalam jumlah yang juga signifikan, baik berupa investasi langsung maupun pembelian surat berharga.

"Hal ini adalah cerminan meningkatnya minat dan kemampuan investor domestik untuk melakukan ekspansi usaha di luar negeri," tuturnya.

Ia menambahkan, kemampuan investor domestik berinvestasi di luar negeri antara lain didukung oleh meningkatnya surplus transaksi berjalan yang mencapai US$ 11,0 miliar pada 2007 dibandingkan US$ 10,8 miliar pada 2006. Kenaikan surplus transaksi berjalan ditopang oleh kenaikan ekspor nonmigas yang masih dapat mengimbangi kenaikan impor nonmigas yang mengalami akselerasi seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak belum mampu meningkatkan sumbangan sektor migas terhadap surplus transaksi berjalan. Hal ini disebabkan terjadinya penurunan produksi minyak dan gas disertai kenaikan volume impor minyak untuk konsumsi BBM domestik selama 2007.
(qom/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads