Kinerja BI Dapat Acungan Jempol

Kinerja BI Dapat Acungan Jempol

- detikFinance
Kamis, 13 Mar 2008 13:22 WIB
Jakarta - Kinerja Bank Indonesia (BI) dinilai sudah baik dengan berbagai macam instrumen moneter yang masih terjaga, seperti nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.
 
Demikian dikatakan oleh Chief Economist Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa dalam diskusi "Peran Bank Sentral Dalam Stabilisasi Moneter" di sebuah rumah makan di kawasan Taman Ria Senayan, Jakarta, Kamis (13/3/2008).
 
"Fluktuasi rupiah sudah relatif stabil, jadi pengendaliannya sudah bagus. Inflasi juga sudah bagus terkendali sejak 2006 dan 2007, kita perhatikan pada saat BBM naik di 2005 BI berani menaikkan suku bunganya agar inflasi dapat dikendalikan dan gejolaknya tidak terlalu besar," tuturnya.
 
Untuk tahun 2008, inflasi memang ekspektasinya akan tinggi, namun hal itu bukan disebabkan oleh kebijakan BI.

"Kenaikkan harga bahan makanan harusnya jadi concern pemerintah, pemerintah harusnya bisa mengantisipasi kenaikkan harga ini sejak tahun lalu," ujarnya.
 
BI juga dinilai telah mampu mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan. Dalam 5 bulan terakhir ada perubahan pada kompetensi perbankan dimana korporasi lebih menyukai dana dari penerbitan saham atau obligasi.

"Tahun lalu hasil penerbitan saham dan obligasi mencapai Rp 77 triliun sementara kredit baru perbankan berjumlah Rp 92 triliun, jadi selisihnya dekat," urai Yudhi.
 
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Senior Economist BNI Ryan Kiryanto yang mengatakan BI punya andil dalam pertumbuhan ekonomi di 2007 yang mencapai 6,32 persen.

"Andil BI dengan mendorong intermediasi perbankan, dan inflasi 6,9 persen di 2007 juga masih dalam range target BI 6 plus minus 1 persen. Jadi pas dengan bandrol BI," ujarnya.
 
Dikatakan Ryan pertumbuhan kredit 25,5 persen di 2007 merupakan rekor setelah krisis. "Dibanding 2006 yang hanya tumbuh 13,9 persen, jadi ada lonjakan 100 persen, jadi BI berperan sebagai panglima dalam mendorong intermediasi perbankan," katanya.
 
Sementara untuk nilai tukar rupiah, menurut Ryan rata-rata Rp 9.700 per dolar AS cukup moderat dan nyaman bagi eksportir dan importir dan mencerminkan kredibilitas BI.
 
"BI rate pun juga terendah 8 persen setelah di 2006 pernah mencapai 12,5 persen, sehingga nyaman bagi bank dan sektor riil. Penetapan stance BI rate yang jelas memberikan ketenangan bagi pelaku pasar," jelasnya.
 
Pengelolaan cadangan devisa BI dikatakan Ryan juga sudah bagus pengelolaannya. "Cadangan devisa di akhir 2007 sebesar US$ 56 miliar menunjukkan stance BI yang prudent dan hati-hati dalam mengelolanya. Di 2008 bisa mencapai US$ 65 sampai 70 miliar," katanya. (dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads