Sukuk Bisa Percepat Masuknya Dana Timteng

Sukuk Bisa Percepat Masuknya Dana Timteng

- detikFinance
Sabtu, 15 Mar 2008 14:13 WIB
Jakarta - Dana modal dari Timur Tengah (Timteng) diharapkan bisa segara masuk ke Indonesia jika UU Sukuk rampung. Mengingat sekarang ini telah terjadi pergeseran pemodal dunia dari AS terutama dari IMF ke negara-negara Timur Tengah dan Singapura.

Hal ini disampaikan oleh ekonom Indef Aviliani disela-sela acara diskusi Sabtu, di sebuah Kafe di Jl Cikini Raya, Sabtu (15/3/2008).

"Pengaruh kiblat Tumur Tengah dengan adanya UU Sukuk, kalau dipercepat akan lebih masuk ke Indonesia sehingga akan sangat bagus. Suatu negara yang bisa mengimbangi untuk masuk ke Indonesia itu mereka sangat bersaing kuat. Justru itu kita diuntungkan dengan itu," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan bahwa negara-negara Timur Tengah sekarang ini sangat menguasai dunia, apalagi dengan harga minyak dunia yang meningkat sehingga kekayaan negara-negara Timur Tengah menjadi meningkat.

Selain itu juga kata Aviliani, ekonomi dunia juga beralih pada Singapura yang sekarang menurutnya sudah menjadi penguasa pemodal.

"Indonesia sekarang ini tidak harus berkiblat dengan siapa pun karena sekarang ini kita sudah bebas dari IMF, kita bisa menentukan apa kebutuhan dari kita sendiri," tambahnya.

Tetapi ia juga tetap menilai hubungan internasional terutama untuk perdagangan dengan negara-negara seperti AS, Jepang dan China masih diperlukan. Karena transaksi perdagangan Indonesia masih besar dengan negara-negara tersebut.

"Sehingga peralihan ke Timur Tengah itu masih penjajakan sehingga belum besar untuk pasar ke sana, kalau kita berkiblat disuatu negara, kita  akan sulit menggali kekuatan. Kalau sukuk segera dilakukan sehingga dana timur tengah akan cepat masuk," paparnya.

Ia menilai Singapura walaupun memiliki modal tetapi terhitung sebagai negara kecil. "Mereka masih menunggu kebijakan-kebijakan Indonesia. Mereka buat kebijakan orang Indonesia bisa sekolah disana karena mereka membutuhkan Indonesia sebagai tempat ekonomi mereka karena dia tidak punya apa-apa, ekonominya sangat tergantung Indonesia," katanya.

Dengan kondisi ini ia menilai sekarang ini Indonesia  punya posisi tawar yang sangat kuat terutama dengan adanya kasus subprime mortgage di AS.
(hen/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads