Demikian disampaikan ekonom pemenang Nobel, Joseph Stiglitz dalam tulisannya di harian Independent, seperti dikutip dari AFP, Selasa (25/3/2008).
"Sistem kompensasi itu tentu saja memberikan kontribusi bagi jalan penting menuju krisis," ujar Stiglitz.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Efeknya, bonus itu dibayarkan kepada para bankir untuk berjudi. Ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik, mereka berlalu dengan bonus yang sangat besar. Namun ketika segala sesuatunya berbalik menjadi buruk ---seperti sekarang---, mereka tidak berbagi kerugian," tegasnya.
"Bahkan jika mereka harus kehilangan pekerjaan, mereka tetap berlalu dengan imbalan yang cukup besar," tegas ekonom kelahiran 9 Februari 1943 ini.
Menurut harian Independen, bonus yang diberikan di kota London mencapai 6 miliar pound atau sekitar US$ 12 miliar pada tahun ini. Bonus itu tetap diberikan meski bank-bank mengalami kegagalan dan jumlah hapus buku mencapai 60 miliar pound.
Menurut Stiglitz, solusinya adalah membuat para bankir bersedia berbagi kerugian, sebagaimana mereka mau berbagi bonus jika berhasil. Ia mencontohkan, bonus untuk jangka waktu 10 tahun. Jika mereka gagal pada tahun kedua, ketiga atau keempat, maka bonus akan berkurang secara otomatis.
Mantan kepala ekonom Bank Dunia ini juga mengkritik regulator yang dianggapnya tidak melakukan hal sebagaimana seharusnya dalam mengatasi krisis.
"Aturan-aturan yang dibuat tidak bisa berinovasi di pasar finansial," pungkas peraih Nobel di tahun 2001 itu. (qom/ir)










































