Menkeu: Keputusan BI Rate Sudah Tepat

Menkeu: Keputusan BI Rate Sudah Tepat

- detikFinance
Kamis, 03 Apr 2008 14:54 WIB
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 8% sudah tepat. Keputusan itu sudah seharusnya ditengah tekanan inflasi yang cukup tinggi.

Hal tersebut disampaikan Menkeu di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (3/4/2008), menanggapi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada hari ini yang memutuskan BI Rate tetap 8%.

"Saya rasa tepat melihat respons terhadap pengumuman inflasi kemarin. dan tentu saja pressure itu dianggap level yang harus diwaspadai. BI dalam hal ini keputusan menjaga interest rate artinya potensi inflasi menjadi lebih pentingdiperhatikan sehingga mereka tidak menurunkan suku bunga," urainya. Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Revisi Pertumbuhan oleh ADB

Terkait revisi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh ADB menjadi 6%, Sri Mulyani menilainya sebagai hal yang wajar. Hal ini karena lembaga keuangan multilateral umumnya melakukan revisi proyeksinya dengan melihat potensi pelemahan dalam pertumbuhan ekonomi.

Dan revisi menurun itu dilakukan secara merata oleh ADB, bahkan China pun juga direvisi.

"Persoalannya adalah apakah penurunan ini reasonable atau apakah persiapan pemerintah untuk policy respon kita melakukan kompensasi. Karena kita tahu yang akan terkena pada agregat demand dan kita kompensasikan dengan kebijakan fiskal yang cukup ketat," urainya.

Menkeu menambahkan, risiko pertumbuhan ekonomi seperti di banyak negara, muncul dari berbagai sumber. Misalnya adlaah kenaikan harga makanan di seluruh dunia dan energi atau BBM yang berpotensi memberikan tekanan pada sisi permintaan.

Ia mengakui bahwa risiko penurunan pertumbuhan ekonomi dari target 6,4% memang besar. Namun Indonesia tetap berpotensi mencapai target pertumbuhan itu jika seluruh kebijakan pemerintah memberikan bantalan pengaman dari tekanan eksternal.

"Namun memang risiko terhadap beban masih tetap ada sehingga kita harus berhati-hati. Dalam situasi seperti ini dalam perekonomian pilihan akan semakin tinggi atau tegang. Antara memantapkan atau menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap tercapai 6,4 persen dengan keinginan mencapai stabilisasi harga karena inflasi yang rendah memerlukan tindakan baik dari sisi fiskal maupun moneter untuk menjinakkan inflasi itu," imbuhnya.


(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads