Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah dalam jamuan dengan kalangan perbankan di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (4/4/2008).
"Dari hasil uji stress testing yang dilakukan BI menunjukkan bahwa dengan skenario yang saya mengatakan sangat jauh skenario yang terburuk perbankan nasional kita masih memiliki pengaman yang cukup tinggi dari permodalan maupun dari likuiditas," ujarnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan bahkan setelah kami lihat dalam jangka waktu yang cukup panjang kami tidak melihat kesulitan itu akan datang dalam waktu 6 bulan ke depan," ujarnya.
Meskipun demikian, BI tetap akan melakukan proses monitoring secara ketat. "Perlu kita melakukan surveillance, pengawasan karena kita melihat bahwa berbagai perkembangan sekarang ini ada yang perlu kita cermati dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
Yang perlu dicermati antara lain penurunan harga saham, penurunan harga SUN yang kemungkinan nantinya berdampak pada perbankan.
"Kemudian nilai tukar rupiah juga dengan kemungkinan keluarnya akan mendorong peningkatan NPL pada kredit valas dan itu akan meningkatkan NPL pada kredit rupiah pada akhirnya dan pada gilirannya tentu akan dapat mengurangi jumlah modal, tetapi sebagaimana yang saya katakan tadi, dari hasil stress testing dengan asumsi-asumsi yang sangat berat sekalipun masih kita cukup bertahan," ujarnya.
(ddn/qom)











































