Dana di SBI Turun Rp 60 Triliun

Dana di SBI Turun Rp 60 Triliun

- detikFinance
Jumat, 04 Apr 2008 18:18 WIB
Jakarta - Bank Indonesia mencatat adanya penurunan sebesar Rp 60 triliun dalam penempatan dana di Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah dalam jamuan dengan kalangan perbankan di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (4/4/2008).

Menurut Burhanuddin dana di SBI turun dari Rp 270 triliun menjadi Rp 210 triliun. Sedangkan cadangan devisa masih di sekitar US$ 59 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Burhanuddin menambahkan untuk mengurangi risiko perbankan ke depan, BI telah melakukan pertemuan-pertemuan dengan pemerintah dan di bidang moneter BI memandang bahwa pengelolaan ekspektasi inflasi ke depan tidak dapat seluruhnya dibebankan kepada BI Rate

"Selama 4 bulan terakhir tingkat inflasi sebesar 4 persen. Oleh karena itu langkah-langkah untuk menyerap likuidtias dalam jumlah uang beredar dalam arti sempit karena dampak likuiditas dalam perbankan merupakan bagian yang menyatu dari penerapan inflation targetting framework," ujarnya.

Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan harga di pasar valas dan secara pencegahan mengurangi risiko instabilitas harga di pasar barang selama 6 minggu terakhir.

"Ini barangkali kita melihat bahwa nilai tukar kita relatif lebih konstan pada 9.200 per dolar AS. Ini hasil dari upaya pencegahan tadi dengan merecycle penghasilan kita dari hasil ekspor minyak dan meskipun sudah sekitar 6,5 miliar recycling ini sehingga SBI turun dari Rp 270 triliun menjadi Rp 210 triliun," ujarnya.

Terkait langkah antisipatifmenjamin tersedianya likuiditas untuk mencegah krisis likuiditas seperti di AS, BI akan terus memonitor perbankan dan lembaga keuangan non bank dari waktu ke waktu.

"Dan yang terakhir untuk berjaga-jaga apabila hal-hal tidak diinginkan terjadi maka upaya-upaya di dalam rangka kerangka forum stabilitas sistem keuangan untuk menuntaskan krisis. Manajamen protokol ini sedang dikembangkan bersama-sama rekan-rekan Depkeu, perbankan dan tempat-tempat lainnya sehingga jika lembaga keungan dengan sistem stabilitas keuangan yang ada saat ini mengalami kesulitan likuiditas maka sudah ada siapa mengerjakan apa," paparnya. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads