Hal tersebut disampaikan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin malam (7/4/2008).
"Saya sendiri kemarin malah mendapat informasi dari berbagai investor asing, bahkan mereka menanyakan harusnya pemerintah mempertimbangkan masuk lagi ke pasar internasional, aneh kan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi karena yang namanya investor besar-besar itu masih melihat Indonesia itu masih eksis, masih prospektif dan mereka punya uang banyak, misalnya dia memegang suatu instrumen tertentu, lalu jatuh tempo, ya uangnya mau diapakan, ya dia harus cari instrumen baru lagi. Jadi minat investor itu masih ada dalam situasi apapun," ujarnya.
Investor asing sendiri kini tengah memburu keranjang investasi yang memberikan yield rendah dan melepas obligasi dengan risiko tinggi.
"Karena sekarang kan ada The Fed policy jadi orang melepas instrumen negara lain untuk mengejar quality, jadi sekarang orang-orang melepas barang-barang yang kualitas rendah, mereka cari yang kualitasnya tinggi seperti US Treasury, jadi banyak cari dan yield-nya turun," ujarnya.
Obligasi internasional yang diterbitkan Indonesia yakni RI0018 dan RI0038 menurutnya masih kompetitif.
"Kalau yield obligasi turun artinya harganya naik. Dan harga dari obligasi dari window 18 dan 38 yang kita terbitkan Januari kemarin harganya naik karena yieldnya turun terus," ujarnya.
(ddn/ir)











































