"Target penyaluran kredit kita tahun ini sekitar Rp 11,8 triliun," ujar Direktur Utama Bank Ekspor Indonesia, Arifin Indra, di hotel Ritz Carlton Pacific Place, Kawasan Niaga Sudirman, Jakarta, Rabu (9/4/2008).
Bank Ekspor Indonesia merupakan BUMN yang khusus bergerak dalam pembiayaan usaha berorientasi ekspor. Pada akhir tahun ini rencananya perseroan akan berubah menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) meski tetap menjalankan usaha perbankan.
Pada tahun 2007 lalu, total aset perseroan sekitar Rp 10,3 triliun atau naik 22% dari tahun 2006. Tahun 2008 ini diharapkan aset perseroan bisa naik Rp 3,5 triliun lebih menjadi Rp 13,9 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kredit yang disalurkan Bank Ekspor Indonesia sekitar 45% dalam mata uang rupiah dan 55% dalam mata uang dolar AS.
Menurut Arifin, setiap tahun Bank Ekspor Indonesia mendapat pinjaman minimal US$ 350 juta dari sindikasi perbankan Singapura dan pinjaman bilateral perbankan asing. Rata-rata pinjaman dolar AS berjangka waktu dua tahun.
Tahun lalu, sektor yang banyak dibiayai oleh Bank Ekspor Indonesia, meliputi sektor industri senilai Rp 3,9 triliun, pertanian Rp 1,26 triliun, dan pertambangan Rp 929 miliar. Menurut Arifin, kenaikan harga komoditas pertanian seperti CPO, karet, kopi, dan coklat; mendorong peningkatan kredit investasi ke sektor ini.
Namun pertanian membutuhkan sumber dana jangka panjang. Oleh karena itu, Bank Ekspor Indonesia berencana menerbitkan obligasi IV senilai Rp 1 triliun sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
(dro/ddn)











































