"Dari data-data NPL perbankan, sampai saat ini justru menunjukkan gejala penurunan," jelas Direktur Penelitian dan Peraturan BI, Halim Alamsyah dikantornya, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (14/4/2008).
Namun dengan perkiraan kondisi perekonomian kedepan yang terus melemah, maka BI akan mewaspadai risikonya terhadap NPL.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BI juga sudah membuat perhitungan dari dampak pelemahan pertumbuhan ekonomi terhadap porsi pertumbuhan kredit. Menurut Halim, jika perekonomian tumbuh sesuai target pemerintah sekitar 6,4%, maka pertumbuhan kredit bisa mencapai 22-24%.
Namun jika pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 6%, maka pertumbuhan kredit hanya sebesar 21-23%.
"Kalau pertumbuhan ekonomi di bawah6%, baru penurunannya cukup besar. Kita sudah membuat skenario. misalnya pertumbuhan 5%, harga minyak US$ 110 dan nilai tukar rupiah melemah di bawah perkiraan, maka kredit masih bisa tumbuh 14-16%. Jadi masih cukup besar pertumbuhannya," urainya.
(qom/ddn)
