Pengusaha Sambut Pelonggaran Kebijakan BI

Pengusaha Sambut Pelonggaran Kebijakan BI

- detikFinance
Rabu, 16 Apr 2008 18:03 WIB
Pengusaha Sambut Pelonggaran Kebijakan BI
Jakarta - Kalangan usaha menilai pelonggaran kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal yang sangat bagus kepada dunia usaha, karena relaksasi kebijakan tersebut akan membuat perbankan terdorong untuk memberikan pembiayaan kepada sektor riil.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum HIPMI Pusat Sandiaga Uno usai menghadiri sebuah seminar di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (16/4/2008).
 
"Banyak yang bilang kebijakan tersebut seperti orang sakit perut dikasih obat sakit pinggang, tapi menurut saya kebijakan yang merelaksasi ini memberikan sinyal yang bagus ke dunia usaha karena otomatis bank terdorong, terinduksi untuk memberikan kelonggaran kredit ke dunia usaha yang kini diperlukan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu dan gonjang ganjing," tuturnya.
 
Sandi menuturkan aturan penurunan bobot risiko dalam penghitungan ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko) untuk obligasi korporasi yang dimiliki perbankan akan turut mendorong pasar obligasi.
 
"Karena banyak sekali korporasi besar yang sudah go public melirik menerbitkan bond, selama ini banyak bank yang tidak bisa mengambil bond karena ATMR-nya 100 persen, apalagi ini korporasi bukan bond negara," katanya.
 
Selain memberikan dorongan kepada pasar obligasi, aturan yang dikeluarkan oleh BI ini membuat dunia usaha lebih memiliki kepastian pasar obligasi yang lebih baik, sehingga mendorong minat mereka untuk menerbitkan obligasi, yang biayanya lebih murah ketimbang kredit perbankan.
 
"Sementara untuk likuiditas rupiah lebih murah obligasi daripada kredit karena justru market-nya, pembelinya menjadi lebih murah dengan bank direlaksasi dan investor menjadi besar di pasar obligasi," ucapnya.
 
Sementara mengenai penurunan bobot risiko dalam perhitungan ATMR untuk Kredit Usaha Kecil (KUK), Sandi melihat akan ada peningkatan kredit perbankan kepada sektor UMKM.
 
"Kita lihat investment credit untuk UKM masih kecil sekali, hanya 9 persen di 2007, itu yang mesti ditingkatkan karena walaupun kredit UKM meningkat, konsumsi dari working capital mendominasi budget kredit UKM dan dari aturan itu saya lihat hanya menyentuh yang besar-besar, sementara yang kecilnya belum," urainya.
(dnl/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads