Demikian laporan terbaru Bank Pembangunan Asia, Asia Bond Monitor (ABM), yang dikutip detikFinance, Rabu (23/4/2008).
Laporan itu juga mencatat tingkat imbal hasil (yield) obligasi korporasi terus meningkat seiring adanya peningkatan risiko yang dilihat oleh para investor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lee menambahkan volatilitas dalam pasar obligasi negara-negara Asia Timur meningkat tajam akibat krisis keuangan global. Namun pengetatan kredit dalam ekonomi Asia Timur tidak terlalu parah
Pada tahap awal pengetatan kredit di AS, obligasi lokal di negara Asia Timur diuntungkan karena investor berlomba-lomba mencari pasar yang lebih menguntungkan di luar pasar AS. Tetapi seiring dengan peningkatan risiko, investor lantas keluar lagi dari pasar Asia dan hal ini langsung menyebabkan peningkatan volatililtas.
Ada tiga risiko dalam pasar obligasi yakni kontraksi dalam pertumbuhan di AS, volatilitas yang berlanjut di pasar global, dan inflasi yang tinggi.
"Pemerintah di kawasan ini membuat langkah reformasi dalam pasar sekunder di tahun 2007. Mereka tetap perlu meningkatkan likuiditas pasar obligasi dan memperkuat manajemen risiko," ujar Lee.
Investor yang makin beragam, sarana lindung nilai atau hedging yang memadai, konsistensi harga di pasar, dan perpajakan yang lebih ramah terhadap investor bisa mengucurkan lebih banyak likuiditas ke pasar obligasi.
ABM memperkirakan pertumbuhan obligasi dalam mata uang lokal sebesar 21 persen di semester kedua tahun 2007 tumbuh dari 10 persen tahun 2006.
Sementara pasar obligasi pemerintah tumbuh 21 persen karena adanya langkah kebijakan moneter oleh bank sentral dan stimulus fiskal oleh pemerintah. Sementara obligasi korporasi tumbuh dalam kisaran yang hampir sama yakni 20 persen.
(ddn/qom)











































