Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom menjelaskan, kenaikan indeks ini lebih disebabkan faktor eksternal dimana pasar keuangan global makin tidak menentu.
"Ke depan, sistem keuangan Indonesia akan dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian dalam pasar keuangan global sebagai kelanjutan subprime mortgage dan melemahnya dolar AS," kata Miranda dalam sambutan Seminar Pengaruh EKonomi Global terhadap Stabilitas SIstem Keuangan di Gedung BI, Jakarta, Rabu (23/4/2008).
Indek Stabilitas Sistem Keuangan merupakan indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan stabilitas keuangan suatu negara. Indeks dikategorikan dalam taraf aman jika masih berada dibawah treshold angka 2.
Pada semester pertama 2007 indek stabilitas sistem keuangan Indonesia masih di kisaran 1,21 hingga 2007. Sementara rasio NPL gross per Desember 2007 mencapai 4,64% atau pertama kalinya di bawah 5% sejak krisis.
Miranda menambahkan, meski dampak putaran pertama krisis AS ke Indonesia relatif minim, namun dampak putaran kedua harus diwaspadai. Dampak putaran kedua yang dimaksud bisa terlihat dari menurunnya ekspor ke AS baik secara langsung ataupun melalui perantara seperti China dan India.
"Perlu diwaspadai pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan eksportir yang notabenenya merupakan debitur perbankan," tambahnya.
Begitu juga tantangan yang harus dihadapi dari dalam negeri seperti bencana alam yang berpotensi meningkatkan jumlah kredit bermasalah.
Stress Test
Miranda juga menjelaskan, hasil stress test terhadap sejumlah korporasi besar yang meminjam valuta asing mengindikasikan mereka cukup tahan terhadap gejolak risiko nilai tukar.
Meskipun ia mengakui ada potensi penurunan stabilitas sistem keuangan yang berasal dari perusahaan korporasi yang menjadi debitur bank.
Untuk mengatasi kerawanan stabilitas keuangan ini, pemerintah dipandang perlu meluncurkan berbagai paket kebijakan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.
(lih/qom)










































