Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Evelina Pietruschka dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Rabu (23/4/2008).
5 calon investor asing itu menurut Evelina sudah meminta masukan kepada AAJI untuk mencari mitra strategis perusahaan asuransi jiwa di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lima calon investor asing itu adalah perusahaan asuransi besar di dunia dan siap menanamkan modalnya di Indonesia.
Evelina menilai masuknya investor asing itu sangat baik bagi pertumbuhan industri asuransi jiwa di Indonesia, apalagi beberapa dari calon investor itu juga ada yang ingin membeli lisensi perusahaan asuransi jiwa nasional, selain mencari mitra strategis.
Evelina juga mengingatkan perusahaan asuransi asing itu tak perlu ditakuti oleh industri asuransi jiwa nasional, kehadiran investor itu justru mendukung pertumbuhan industri asuransi jiwa di Indonesia.
Prospek Asuransi Masih Cerah
Evelina menambahkan prospek industri asuransi jiwa di Indonesia sangat menjanjikan. Sebagai gambaran total pendapatan premi asuransi jiwa pada 2007 tumbuh 67% atau Rp 44,4 triliun dibandingkan periode yang sama 2006 senilai Rp 26,5 triliun.
Industri asuransi jiwa nasional juga membukukan pertumbuhan pendapatan dari hasil investasi (unaudited) pada 2007 sebesar Rp 10,4 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 75% dibandingkan 2006 yang mencapai Rp 5,9 triliun. Sehingga, total pendapatan industri asuransi jiwa pada 2007 mencapai Rp 58,2 triliun atau tumbuh sebesar 76% dibandingkan 2006 sebesar Rp 33,1 triliun.
Untuk itu Evelina optimistis pertumbuhan industri asuransi pada 2008 akan tumbuh 30%. AAJI menargetkan total pendapatan premi asuransi jiwa tahun ini bakal mencapai Rp 58 triliun dibandingkan tahun 2007 yang Rp 44,4 triliun. Hal ini didukung oleh kinerja asuransi jiwa 2007 yang pendapatan preminya tumbuh sebesar 67% dibandingkan tahun 2006. (ddn/ir)











































