Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Dirut BCA Jahja Setiaatmadja dalam jumpa pers di Mercantile Club, Wisma BCA, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (28/4/2008).
Jahja mengatakan keadaan ekonomi sekarang masih tidak menentu, dimana pengaruh dari harga minyak dunia tentunya mempengaruhi total subsidi BBM yang dikeluarkan pemerintah. Karena itu pemerintah perlu mempertimbangkan masak-masak jika ingin menaikkan harga BBM karena akan menekan penyaluran kredit perbankan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jahja mengatakan dengan alasan tadi BCA tetap menargetkan petumbuhan kredit baru di 2008 di kisaran Rp 12-14 triliun.
"Ya syukur-syukur tidak ada kenaikan BBM, suku bunga juga tetap, tidak ada perubahan sehingga kredit juga targetnya bisa tercapai," ujarnya
Sampai triwulan I-2008 ini Jahja mengatakan pertumbuhan kredit cukup bagus dengan peningkatan Rp 2 triliun. "Sampai Maret biasanya pertumbuhan kredit kita itu negatif growth tapi tahun ini bisa positif Rp 2 triliun, kita akan terus mengamati kondisi perekonomian, mudah-mudahan tidak ada kenaikan BBM, suku bunga dan lainya sehingga kredit dapat meningkat," ujarnya.
BCA Susah Akusisi Bank Kecil
Selain itu mengenai rencana perseroan untuk mengakuisisi bank kecil guna dijadikan bank umum syariah (BUS), BCA mengaku belum mendapat bank kecil dengan harga yang cocok.
"Harga bank kecil saat ini meningkat, jadi susah nyari yang pas, tapimudah-mudahan ada yang jodoh dengan kita, tapi targetnya sih tahun ini, karena sudah ada di anggaran tahun ini," jelasnya.
Jahja mengatakan untuk pembuatan BUS ini BCA sedang mengkaji opsi untuk menggandeng partner yang lebih berpengalaman di bidang syariah untuk mengembangkan bank umum syariah yang akan dibuat BCA.
"Kalau kita kembangkan sendiri mungkin agak lamban pertumbuhannya, kita juga sedang memikirkan untuk mencari partner yang mau join, yang lebih ahli supaya lebih cepat pertumbuhan syariahnya nanti," ujarnya.
(ddn/qom)











































