Hal ini disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Avilliani ketika ditemui di Kantor Bappenas, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Senin (5/4/2008)
"Menurut saya BI Rate harus dipertahankan karena dampaknya sangat buruk lebih banyak, satu terhadap pasar modal karena orang akan berekspektasi bunga lebih tinggi sehingga SUN akan dilepas. Jadi biarkansaja BI rate 8 persen karena spread dengan The Fed kan sudah 6 persen masih bagus. Tidak perlu lagi kita memakai teori antara inflasi dengan suku bunga," tuturnya.
Selain itu, kata Aviliani, perbankan juga akan mengalami masalah tambahan NPL jika BI Rate dinaikkan karena tingkat inflasi yang tinggi.
"Dimana orang akan melihat suku bunga yang naik adalah beban bagi industri, dampaknya buruk bagi pasar modal maupun perbankan," ujarnya.
Investasi asing juga diyakini tidak akan keluar kalaupun BI Rate tidak dinaikkan. Dengan BI Rate 8%, Indonesia akan dinilai sebagai negara yang memberikan imbal hasil cukup baik.
Malahan, menurut Avi kemungkinan BI rate untuk turun lebih besar mengingat jarak atau selisih dengan suku bunga The Fed masih cukup lebar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika BI rate diturunkan maka arus aliran dana yang masuk akan jauh lebih tinggi lagi. "Itu yang kita takutkan bubble itu tadi, pemerintah juga kalau ingin buy back SUN juga akan jadi masalah, sekarang kita harus kurangilah dana luar negeri," ucapnya.
(dnl/qom)











































