Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Miranda Swaray Goeltom saat memberikan sambutan dalam pembukaan The Asia Pacific Conference and Exhibition (Apconex) di Jakarta Convention Center, Rabu (7/5/2008).
Indikator pertama masyarakat sudah siap untuk menggunakan transaksi non tunai. Dari hasil survei Bank Indonesia 71 persen nasabah perbankan sudah menggunakan instrumen non tunai, bahkan 64,5 persennya sudah punya preferensi akan menggunakan sistem e-money .
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indikator yang ketiga adalah banyaknya institusi non perbankan yang akan mengembangkan e-money seperti PT Telkom, PT Telkomsel, dan PT Indosat,
"Less cash meminimalisasi proses pembayaran, mempercepat, meningkatkan efisiensi dan yang terakhir adalah perlindungan kepada konsumen, ini yang penting. Karena itu Pak Presiden untuk less cash society bukan peralihan sistem tapi adalah perubahan budaya masyarakat," ujarnya.
Less cash society adalah masyarakat yang lebih banyak menggunakan uang non tunai, melalui penggunaan instrumen cek, bilyet, giro, kartu debet dan kartu kredit.
Menurut Miranda less cash society itu penting sebab kalau melihat perkembangan ekonomi global penggunaan uang tunai sudah sangat berkurang.
"Penggunaan uang cash saat ini rawan akan pemalsuan dan pencurian oleh karena itu masyarakat harus membiasakan diri menggunakan instrumen non tunai," ujarnya.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional Indonesia (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan biaya cetak uang, distribusi dan penyimpanan uang misalkan uang pecahan Rp 1.000 lebih mahal dari uang nominal itu sendiri.
"Dan itu menyebabkan inefisiensi dari perekonomian," ujarnya.
(ddn/ir)











































