Hal ini disampaikan oleh Wakil Prsiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja usai menghadiri acara pembukaan Apconex 2008 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Rabu (7/5/2008).
"Dengan kenaikkan BBM, kredit itu bisa dikompensasi misalnya dari pertambangan, perkebunan dan juga seperti power plan permintaannya masih cukup besar. Itu yang coba kita kompensasikan dari situ. Kalau target kita (2008) Rp 10-12 triliun masih bisa dicapai, tapi kalau kredit konsumen tidak bisa, yang semula 30% mungkin 15%," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Target masih bisa tercapai, cuma bidang bisnis yang berbeda," ujarnya.
Mengenai kenaikkan BI Rate menjadi 8,25%, Jahja mengatakan sampai saat ini BCA belum akan menaikkan tingkat suku bunga pinjamannya.
"Kalau naiknya 0,25% tidak berpengaruh masih bisa di-handle perbankan, jadi tidak perlu tingkatin suku bunga kalau pendanaan cukup. Pengaruh ke lending ada kenaikan BBM, tapi di plantation ada opsi, mereka butuh kredit jadi kita akan beralih ke situ, plantation, perkebunan, telekomunikasi," paparnya.
Jadi disimpulkannya dengan kenaikkan harga BBM kemungkinan besar kredit untuk sektor perumahan dan kendaraan bermotor akan menurun, namun BCA tetap mempertahankan target yang akan dicapai.
"BI Rate belum ada pengaruh, kala sampai 100 basis poin mungkin ada pengaruh, sampai 9 persen masih tidak menggangu. Namun yang harus diperhatikan dampak BBM sendiri," ujarnya.
(dnl/qom)











































