Deputi Menneg BUMN bidang perbankan, Parikesit Suprapto mengatakan kenaikan provisi BNI merupakan hal yang lumrah.
"Sekarang baru 80% mau dinaikkan jadi 100%, bank BUMN lain malah ada yang provisinya sampai 200%, jadi hal itu lumrah," kata Parikesit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Parikesit menjelaskan, BNI memang harus secara bertahap menaikkan provisinya. "Karena menghadapi gejolak kenaikan harga minyak yang sangat tinggi," ujarnya.
Gatot menilai, BNI di bawah kepemimpinan Gatot Suwondo sudah lebih fokus menjalankan bisnisnya dengan tiga tombak yakni konsumer, UKM dan treasury. "Dia juga melakukan pembenahan di dalam, bersih-bersihin internal BNI," ujarnya.
Mengenai harga saham BNI yang tak kunjung naik dari harga secondary offering Rp 2.050 per saham, dan kini malah di level Rp 1.190, menurut Parikesit itu karena kondisi pasar yang sedang bergejolak.
"Tapi BNI bukannya bilang mau menarik investor Timur Tengah untuk membesarkan banknya terutama unit syariah," kata Parikesit yang berharap masuknya investor itu bisa menjadi sentimen positif saham BNI.
(ir/qom)










































