Jika memang alternatif pembiayaan lewat perbankan ini dibutuhkan untuk menutupi pembiayaan defisit tahun ini di tengah tingginya biaya melalui pinjaman luar negeri ataupun lewat SUN (Surat Utang Negara).
Β
Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (23/5/2008).
Β
"Aturan RPP Pinjaman Dalam Negeri selesai tahun depan, tapi kita lihat kalau ada keperluan bisa dipercepat. Tapi sementara ini belum. Jadi kalau keadaan biasa-biasa saja, tetap tahun depan," tuturnya.
Β
RPP Pinjaman Dalam Negeri sendiri saat ini sudah selesai diharmonisasi di Dephukham pada saat ini, dan tinggal diteken dari Presiden untuk kemudian disahkan menjadi PP (Peraturan Pemerintah).
Sebelumnya, Sekretaris Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Sestama Bappenas Syahrial Loetan mengatakan saat ini Indonesia makin sulit mendapatkan utang dengan bunga sangat murah, karena Indonesia telah masuk kategori negara berpendapatan menengah.
Β
Sementara, pinjaman dengan bunga sangat lunak hanya diberikan kepada negara miskin. "Alternatif pinjaman luar negeri yang murah sekali sudah tidak ada," kata Syahrial.
Β
Menurut Syahrial, saat ini yang terpenting adalah pemerintah harus sadar bahwa pinjaman ongkos pinjaman cukup mahal dan harus memilih apakah lewat SUN atau pinjaman luar negeri. "Sekarang tinggal memilih, karena SUN sudah mahal sekali," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(dnl/ddn)










































