Demikian disampaikan ekonom Bank BRI Djoko Retnadi dalam acara diskusi bulanan di Jakarta, Minggu (25/5/2008).
"Sektor manufaktur seperti logam dan semen komponen biaya BBM sangat siginifikan dan recoverynya lambat terhadap kenaikan BBM. Bank sebaiknya menggeser portfolionya ke sektor listrik, gas dan air karena tidak terpengaruh kenaikan BBM karena kebutuhan dasar," ujarnya.
Selain itu ia mencatat ada beberapa sektor lain seperti properti terutama fasilitas KPR diatas 70 dan kredit konsumer menjadi sektor yang harus diwaspadai kalangan perbankan untuk memberikan kredit karena sektor-sektor tersebut sangat rentan dengan kenaikan BBM bahkan potensi menciptakan NPL yang tinggi.
Namun dari sekian sektor tersebut yang masih memiliki potensi cukup baik antara lain pertanian, pertambangan, perdagangan, KMK dan KPR dibawah 70.
Berikut ini beberapa sektor dengan porsi kredit setelah kenaikan BBM tahun 2008 konsumen 29,23%, perdagangan 21,85%, manufaktur 20,94%, jasa 10,75% dan agrikultur 5,45%.
Dari sektor sektor itu yang memiliki NPL tertinggi adalah sektor manufaktur yang mencapai 8,56%, agrikultur 6,01%, perdagangan 5,35%, transportasi 5,35% konstruksi 4,6%.
(hen/ddn)











































