Hal ini karena inflasi yang terjadi sekarang ini lebih disebabkan inflasi global yang dipicu oleh kenaikan harga pangan dan energi.
Â
Demikian disampaikan oleh Senior Vice President Economist and Government Relations Head Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan, dalam acara peresmian Wisma Standard, Jl Satrio, Jakarta, Selasa (3/6/2008).
Â
"Inflasi sekarang ini disebabkan karena energi dan pangan, yang sebetulnya tidak bisa diredam Bank sentral manapun. Sehingga kenaikan BI rate 25 basis poin atau lebih hanya akan meredam ekspektasi inflasi 6 bulan kedepan jadi bukan untuk menurunkan inflasi," jelasnya.
Â
Fauzi menambahkan Inflasi yang tinggi saat ini adalah tekanan harga-harga dari sisi suplai, sehingga bank sentral manapun tidak akan bisa menekan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga komoditas.
Â
"Perkiraan kita bulan ini BI rate bisa naik 25-50 basis poin, dan hingga akhir tahun bisa naik kearah 9%-9,5% untuk meredam ekspektasi inflasi. Sebetulnya BI tidak bisa menekan turun inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga komoditas dunia," tambahnya.
Â
Terkait kenaikan BI Rate sendiri, Fauzi memperkirakan dampaknya pada sektor riil tidak akan terlalu signifikan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya BI Rate bisa mencapai 15% -16%, namun kenyataanya justru sektor perbankan masin bisa berjalan.
Â
"Kalau BI rate naik 200 basis poin pun memang dampaknya negatif tetapi tidak akan memukul perekonomian Indonesia," ujarnya beralasan.
Â
Justru Fauzi menekankan, yang perlu diwaspadai adalah lonjakan harga minyak yang berpotensi tembus mencapai US$150 per barel, inflasi global, resesi AS, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
"Faktor-faktor yang lebih serius dibandingkan dengan kenaikan BI rate 200 poin," pungkasnya.
Â
(hen/qom)











































