BIS: Asia Makin Tahan Krisis

BIS: Asia Makin Tahan Krisis

- detikFinance
Minggu, 08 Jun 2008 12:01 WIB
BIS: Asia Makin Tahan Krisis
Jakarta - Ketahanan ekonomi negara-negara Asia saat ini dalam menghadapi krisis telah jauh lebih baik. Kuatnya neraca pembayaran, meningkatnya cadangan devisa, dan berkurangnya utang luar negeri membuktikan hal itu.

Selain itu, perkembangan pasar keuangan yang membaik (financial deepening) diharapkan mampu mengurangi risiko terjadinya krisis. Β 

Demikian salah satu pokok kesimpulan dari Sidang Kelompok Kerja Bank for International Settlement (BIS Working Party) ke-11 yang berlangsung pada 5 dan 6 Juni 2008 di Jakarta seperti dikutip situs BI, Minggu (8/6/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BIS adalah organisasi internasional bank sentral seluruh dunia, yang mendorong kerjasama keuangan dan moneter diantara bank sentral serta berlaku sebagai bank untuk bank sentral-bank sentral di dunia.

Meski ketahanan ekonomi negara-negara Asia membaik, BIS tetap menggarisbawahi pentingnya menjaga stabilitas dalam menghadapi gejolak global saat ini.

Gejolak yang muncul akibat meningkatnya harga-harga komoditas, makanan, maupun krisis keuangan di Amerika Serikat akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dalam beberapa waktu ke depan, termasuk Asia.

Sementara itu, tingginya tekanan inflasi sendiri yang semula berasal dari melonjaknya harga komoditas internasional dan harga minyak, juga telah terefleksi pada meningkatnya inflasi inti di beberapa negara.

Menghadapi tekanan tersebut, bank sentral anggota BIS perlu secara bijak menggunakan pilihan dan instrumen kebijakan moneter yang ada dengan tetap memerhatikan keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas sistem keuangan.

Kebijakan moneter dengan mengunakan suku bunga maupun dengan memperkuat nilai tukar ditempuh oleh beberapa bank sentral dalam menghadapi tekanan inflasi. Namun pilihan kebijakan tersebut akan sangat ditentukan oleh kondisi dan struktur keuangan maupun perekonomian suatu negara.

"Karenanya, menghadapi tantangan yang sama tersebut, upaya kerja sama dan saling tukar pengalaman antar otoritas moneter berbagai negara dalam menjalankan kebijakan moneter menjadi sangat penting peranannya," ujar ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A. Sarwono.

Sidang BIS ini dihadiri oleh perwakilan dari 19 Bank Sentral atau otoritas moneter dari Asia Pasifik, Australia, New Zealand, Eropa, dan Amerika Latin.
(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads