Selain itu, perkembangan pasar keuangan yang membaik (financial deepening) diharapkan mampu mengurangi risiko terjadinya krisis. Β
Demikian salah satu pokok kesimpulan dari Sidang Kelompok Kerja Bank for International Settlement (BIS Working Party) ke-11 yang berlangsung pada 5 dan 6 Juni 2008 di Jakarta seperti dikutip situs BI, Minggu (8/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski ketahanan ekonomi negara-negara Asia membaik, BIS tetap menggarisbawahi pentingnya menjaga stabilitas dalam menghadapi gejolak global saat ini.
Gejolak yang muncul akibat meningkatnya harga-harga komoditas, makanan, maupun krisis keuangan di Amerika Serikat akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dalam beberapa waktu ke depan, termasuk Asia.
Sementara itu, tingginya tekanan inflasi sendiri yang semula berasal dari melonjaknya harga komoditas internasional dan harga minyak, juga telah terefleksi pada meningkatnya inflasi inti di beberapa negara.
Menghadapi tekanan tersebut, bank sentral anggota BIS perlu secara bijak menggunakan pilihan dan instrumen kebijakan moneter yang ada dengan tetap memerhatikan keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas sistem keuangan.
Kebijakan moneter dengan mengunakan suku bunga maupun dengan memperkuat nilai tukar ditempuh oleh beberapa bank sentral dalam menghadapi tekanan inflasi. Namun pilihan kebijakan tersebut akan sangat ditentukan oleh kondisi dan struktur keuangan maupun perekonomian suatu negara.
"Karenanya, menghadapi tantangan yang sama tersebut, upaya kerja sama dan saling tukar pengalaman antar otoritas moneter berbagai negara dalam menjalankan kebijakan moneter menjadi sangat penting peranannya," ujar ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A. Sarwono.
Sidang BIS ini dihadiri oleh perwakilan dari 19 Bank Sentral atau otoritas moneter dari Asia Pasifik, Australia, New Zealand, Eropa, dan Amerika Latin.
(ddn/ddn)











































