Penopang utama surplus transaksi berjalan adalah penerimaan ekspor yang melampaui pengeluaran impor serta penerimaan devisa dari transfer tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Menurut siaran pers dari BI, Senin (9/6/2008), perkembangan transaksi berjalan tersebut mengindikasikan bahwa sektor eksternal masih memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perekonomian domestik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonjakan harga minyak dan harga beberapa komoditas ekspor nonmigas unggulan, seperti minyak sawit, karet, dan timah, serta kenaikan permintaan dunia menjadi pendorong kenaikan nilai ekspor tersebut. Dalam periode yang sama nilai impor mencapai US$ 26,8 miliar atau meningkat 41,9%. Perkembangan tersebut menunjukkan masih kuatnya kegiatan ekonomi.
Sejalan dengan itu, jumlah cadangan devisa pada akhir periode tersebut meningkat menjadi US$59,0 miliar, kurang lebih setara dengan lima bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Untuk posisi cadangan devisa per 30 Mei 2008 sebesar US$ 57,464 miliar.
Surplus transaksi berjalan tersebut mampu menutupi defisit yang terjadi pada transaksi modal dan keuangan. Defisit yang mencapai sekitar US$1,4 miliar itu sebagian disebabkan oleh menurunnya arus masuk modal portofolio asing.
Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi pasar keuangan internasional yang masih belum pulih dari dampak krisis subprime mortgage di Amerika Serikat, ditambah dengan munculnya persepsi negatif di kalangan investor mengenai daya tahan keuangan negara (APBN) terhadap tekanan kenaikan harga minyak.
Sebagian lagi dari defisit tersebut disebabkan oleh meningkatnya penempatan aset valas bank di luar negeri seiring masih kuatnya kinerja ekspor.
(qom/ir)











































