Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono di sela-sela rapat panitia anggaran di DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/6/2008).
"Dana US$ 2,2 miliar akan masuk cadangan devisa dan memperkuat cadangan devisa kita, kan sesuai ketentuan semua keuangan pemerintah baik valas maupun rupiah itu masuknya di BI kalau pemerintah memerlukan rupiah kita bisa tukarkan dengan rupiah. Jadi ini bagus sentimennya," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang untuk obligasi itu investor menghitung yield-nya tergantung pada prediksi inflasi negeri kita kalau inflasinya tinggi maka dia minta yield-nya tinggi," ujarnya.
Pemerintah memperkirakan inflasi sampai akhir tahun ini mencapai 11,5-12,5 persen lalu akan menurun di tahun depan menjadi 6,5-7,5 persen di 2009.
"Kalau investor percaya maka dia akan mengikuti perkiraan pemerintah dan tidak akan mengira-ngira sendiri sehingga yield yang diminta tidak akan terlalu tinggi," ujar Hartadi yang ikut rombongan pemerintah dalam roadshow global bond di AS pekan ini.
"Saya kemarin ikut roadshow-nya, tugas saya adalah meyakinkan investor bahwa perekonomian kita itu membaik," ujarnya.
Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto pernah menuturkan tingginya yield untuk obligasi berjangka waktu panjang terjadi karena investor memperkirakan long term inflation diperkirakan masih tinggi, sehingga investor meminta imbal hasil yang lebih untuk obligasi jangka panjang lebih tinggi.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu menuturkan jumlah US$ 2,2 miliar itu bukan jumlah yang kecil bila dibandingkan dengan permintaan investor yang mencapai US$ 6 miliar.
"Siapa bilang kecil, jumlah itu sudah cukup besar, jumlah itu sesuai dengan permintaan pasar," ujarnya di DPR. (ddn/ir)











































