Demikian disampaikan olehTreasurer Bank Internasional Indonesia (BII) Frederick Weoseke dalam acara Training for Journalist, introduction to treasury, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (25/6/2008).
"Kenapa kita enggak kesana, kita perlu infrastruktur yang bisa menjamah secara luas, kita enggak gegabah. BII enggak bakal bisa, kalau pun bisa kita butuh investasi yang besar," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hingga hari ini yang besar leader-nya BRI. Ada pendatang baru yaitu Danamon. BRI sudah teruji, tetapi Danamon belum teruji (DSP). Terutama soal dengan naiknya suku bunga, maka NPL-nya kemungkinan akan naik juga," kiranya.
Selain itu, dikatakan oleh Frederick selama ini setiap nasabah setiap segmen memiliki sensitifitas yang berbeda. Sehingga sangat sulit bagi BII untuk masuk di segmen kredit mikro mengingat selama ini nasabah BII sangat sensitif dengan perubahan rate bunga.
Sedangkan kalangan mikro tidak akan terlalu peduli dengan masalah sukubunga, sebab yang terpenting bagi mereka, lanjut Frederick adalah akses kredit.
"BII kita tidak punya exposure yang lebih ritel kecil, kecuali KPR atau pembiayaan melalui Wahana Multiartha," katanya.
Ia juga memprediksi secara umum untuk tahun ini pertumbuhan kredit akan melambat, kredit hanya akan mencapai 22%, dari prediksi awal Januari 2008 hinggga 27%.
"Yang paling terkena dampaknya adalah kredit investasi koorporasi, sedangkan untuk kredit mikro dan menengah-komersil masih bisa lah," kilahnya.
Sedangkan untuk kredit konsumer kelas atas, ia memperkirakan kondisinya masih bisa baik, misalnya untuk KPR kelas atas. Untuk kredit menengah kebawah, seperti kredit tanpa agunan ia memperkirakan tingkat kredit macetnya akan tinggi. "Maka pihak perbankan akan berhati-hati dengan segmen yang ini," jelasnya. (hen/ir)











































