BI akan meneliti apakah kenaikan kredit itu karena faktor konsumsi semata atau karena adanya pengucuran kredit untuk infrastruktur.
Hal tersebut disampaikan Gubernur BI Boediono di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (27/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tingginya kredit tersebut memaksa untuk ditekan kembali kalau untuk digunakan untuk infrastruktur enggak apa-apa tapi kalau untuk kredit konsumsi atau tidak terkait dengan kegiatan ekonomi langsung sebaiknya itu dikendalikan," tambahnya.
Boediono menuturkan kenaikan kredit 33 persen itu sebagian digunakan perusahaan untuk membiayai modal kerja yang meningkat karena harga bahan-bahan mentah meningkat akibat kenaikan BBM.
"Jadi biaya produksi dari duna usaha meningkat pula termasuk biaya energi yang diperoleh lewat impor, sehingga memerlukan modal kerja yang lebih tinggi," ujarnya.
(ddn/ir)











































