Demikian disampaikan oleh Direktur Keuangan PT Bank Mayapada Internasional Hariati Tupang usai acara RUPS Tahunan dan Luar Biasa, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (30/6/2008).
"Diputuskan Rp 5 per saham dengan total Rp 12,8 miliar atau 31,6% dari keuntuangan perseroan sisanya 68,4% sebagai laba ditahan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengucuran Kredit
Sedangkan mengenai pengucuran kredit yang diberikan hingga April 2008 Rp 3,469 triliun, dan tahun April 2007 hanya Rp 2,462 triliun.
Mengenai dana Dana pihak Ketiga (DPK) April 2008 Rp 2,867 triliun, sedangkan tahun 2007 mencapai Rp 2,958 triliun.
DPK per April 2008 mencakup Giro Rp 248,06 miliar (8,65%), Tabungan Rp 314,01 miliar (10,95%), Deposito Rp 2,257 triliun (78,72%), Sertifikat deposito Rp 48,22 miliar (1,68%).
Untuk NPL net April 2008 mencapai 0,04%, atau turun dibandingkan dengan April 2007 yang mencapai 0,16%.
Unit Syariah
Sementara itu Bank Mayapada masih melakukan penjajakan untuk membentuk unit usaha syariah. Namun rencana ini belum sampai tahap matang, masih dalam tahap pertimbangan.
"Untuk syariah kepikiran, tetapi masih menjajaki, syariah masih ada pemikiran, masih penjajakan jadi atau enggak belum bisa kita putuskan," kata Direktur Utama PT Bank Mayapada Hendra.
Bahkan selain syariah, Bank Mayapada masih belum mempertimbangan untuk mengakuisisi lembaga keuangan seperti lembaga pembiaaan padahal sektor ini juga cukup menjadi tren akuisisi sekarang ini.
Â
"Rencana bank untuk akusisi multifinance sampai saat ini belum, karena kita belum kesana kita lebih fokus SME, karena sektor ini juga kan sama dengan multifinance," katanya.
Â
Sementara itu mengenai kenaikan BI Rate yang diduga akan terus naik, Hendra mengatakan untuk mengantisipasi hal itu pihaknya telah berencana menaikkan suku bunga hingga 1% dari posisi semula.
Â
"Otomatis suku bunga kita naikan secara bertahap kenaikan 0,5% sampai 1% dalam waktu yang tidak lama tetapi tidak semua sama untuk jenis kredit," katanya.
Â
Perbedaaan kenaikan sukubunga ini, lanjut Hendra, lebih disebabkan oleh faktor sensitifitas suku bunga dari setiap sektor. Misalnya ia mencontohkan untuk sektor korporat tentunya akan lebih sensitif dengan sektor konsumsi dan lainnya mengingat sektor korporat mengambil dana dalam jumlah yang besar.
(hen/ddn)











































