"Kalau inflasi itu berdampak pada BI Rate di atas 10%, maka bank syariah akan tiarap lagi seperti tahun 2006," kata Presdir Karim Business Consulting Adiwarman Karim disela-sela acara seminar mengenai Reits dan Sukuk di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (2/7/2008)
Ia mengatakan ada dua alasan yang menyebabkan perkembangan bank syariah akan terhambat oleh kenaikan BI Rate. Mengingat apabila inflasi tinggi maka sektor bisnis akan terpengaruh sektor konsumen yang akan turun, yang berdampak pada tingkat kemampuan pembayaran kredit kalangan dunia usaha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila hal ini terjadi maka kondisi tersebut akan mirip seperti tahun 2006, dimana BI Rate mencapai 12%.
"BI Rate bisa tetap naik, tetapi maksimal 9,5 % karena syariah masih punya margin 1,5%, tetapi kalau 10 % maka kecil," katanya.
Selain itu, ia mengharapkan perlu adanya antisipasi lainnya yaitu menekan penguatan rupiah terhadap dolar AS yaitu di level Rp 9.700 per dolar AS.
Karim mengingatkan, jika itu terjadi upaya konversi bank-bank syariah oleh bank konvensional menjadi hal yang tidak menarik ke depannya.
"Jadi di 2008 paling enggak ada 7 bank umum syariah, tahun 2008 menjadi top-topnya. Ada tiga bank BRI, BNI, Bukopin, ada dua yang udah beli bank kecil akan konversi di syariah target 2008 operasi, ada dua bank lagi yang sedang proses mau membeli bank kecil. Ada 1 lagi asing yang punya cabang di Indonesia yang menyatakan niatnya untuk mengkonversi keseluruhannya. Ada dua lagi bank asing yang akan meningkatkan statusnya," paparnya.
Hingga April 2008 aset bank-bank syariah telah mencapai Rp 40 triliun, sedangkan pada April 2007 hanyan mencapai Rp 30 triliun dengan tingkat NPL mencapai 4%. "Dari Juli hingga Desember tahun ini bisalah mencapai Rp 10 triliun," harapnya.
(hen/ir)











































