"Saya menduga akan ada kenaikan BI Rate 9,5% bahkan sampai 10%, itu mengurangi kemampuan pengusaha untuk mendapatkan kredit murah, lending rate-nya bisa 16% sampai 17%," kata Ketua Umum Kadin MS Hidayat ketika ditemui dikantornya, Jakarta, Kamis (3/7/2008).
Namun Hidayat mengaku bisa mengerti alasan kenaikan BI Rate. Kebijakan itu penting untuk meredam inflasi yang sudah menembus 11%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengingatkan apabila inflasi sudah mencapai di dua digit maka akan susah dikendalikan. Bahkan kerugian inflasi tinggi, lanjut Hidayat, akan sangat berpengaruh terhadap masyarakat yang memiliki pendapatan tetap.
Dengan kondisi tersebut, Hidayat memperkirakan dunia usaha tidak berani untuk melakukan ekspansi, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. "Pertumbuhan ekonomi akan turun, saya menduga hanya 6,1%," katanya.
Sementara sektor industri khususnya, Hidayat yakin tidak akan mengalami pertumbuhan lebih dari 5%.
"Ini dari dunia usaha bukan sebagai nada komplain, karena kami mengerti dengan kondisi yang buruk, kalau masalah tidak efisiensinya birokrasi saya akan komplain," jelasnya.
Lebih lanjut Hidayat mengatakan selain sektor riil yang terancam, beberapa proyek pemerintah pun akan mengalami nasib yang sama terutama mengenai perubahan biaya proyek menyusul menggilanya harga minyak.
"Perlu adanya eskalasi harga terutama untuk proyek-proyek EPC ataupun IPP. Sekarang pemerintah juga tidak berani membuka. Sebaikanya dibuka karena saya melihat ada ketakutan terhadap KPK, saya menyarankan dibuka saja," pintanya.
Bahkan menurutnya, sekarang ini kalangan kepala proyek pembangunan milik pemerintah takut mengambil inisiatif untuk mengambil keputusan.
"Saya mengimbau sebagai Kadin sebaiknya dibuka saja dari pada macet proyeknya," serunya lagi.
(hen/qom)











































