"Investasinya murah karena menggandeng Al Razi Bank sebagai bank koresponden, tidak ada cost dan bulan depan sudah dijalankan," jelas Direktur Treasury dan Internasional BNI, Bien Subiantoro di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (8/7/2008).
Dalam kesempatan itu, Bien juga mengungkapkan pihaknya menargetkan bisa meraup transaksi L/C sebesar US$ 6 miliar pada tahun 2008. Hingga Juni 2008, transaksi L/C US$ 1,8 miliar, dengan komposisi 40% ekspor dan 60% impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Trade Finance L/C dan non L/C, fee based income kita targetkan Rp 150 miliar dengan transaksi Rp 60 triliun. ini cukup besar apalagi ekspor di Indonesia cukup besar tahun-tahun ini," ujar Bien.
Menurut Bien, fee based income itu ditopang oleh trade customer finance BNI yang memiliki jaringan luas di dunia, dengan 5 cabang seperti di New York. Tokyo, Singapura dan London.
BNI hingga kini memiliki 200 nasabah trade finance dan berpotensi untuk bertambah khususnya untuk sektor UKM.
"Memang ada potensi, namun diantara mereka belum memiliki pengetahuan cukup dalam perdagangan internasional industri kreatif untuk menghasilkan UKM," tambahnya.
Namun BNI mencoba untuk memitigasi potensi gagal bayar terutama bagi para pendatang baru. BNI juga menaikkan limit negosiasi ekspor sebesar 50% karena adanya kenaikan harga komoditas.
Bayar Subt Debt
Bien juga mengungkapkan, BNI sudah membayar subt debt US$ 100 juta, yang diterbitkannya tahun 2003. Pembayaran dari pinjaman bilateral dengan Standard Chartered US$ 150 juta.
Untuk penerbitan subt debt, Bien mengatakan saat ini belum ada rencana. Karena pasar belum stabil. "Perkiraan awal kuartal III sudah bisa," katanya.
(qom/ir)











































