Hal ini dikatakan oleh Direktur Utama PT Jamsostek (Persero) Hotbonar Sinaga di sela acara Workshop dan Diskusi KNKG (Komite Nasional Kebijakan Governance) di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Senin (21/7/2008).
"Perlu ada sinergi dari reasuransi yang dimiliki BUMN dan pemerintah agar di merger. Karena ini masalahnya ini tidak terlepas dari masalah neraca pembayaran asuransi yang masih defisit, artinya lebih banyak premi yang terbang ke luar negeri, dibandingkan dengan klaim yang dibayarkan oleh luar negeri termasuk premi reasuransi yang diterima oleh industri asuransi lokal," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga kalau nanti dia melakukan merger maka nanti akan meningkatkan modal sendiri, juga kemampuan untuk menahan risiko. Saat ini total modal sendiri dari 2 perusahaan (Tugu Reasuransi dan Nasional Reasuransi) itu masih sekitar Rp 300 miliar, sementara kalau idealnya itu bisa Rp 1 triliun," katanya
Jadi apabila reasuransi menanggung suatu pertanggungan dengan nilai objek triliunan rupiah yang bisa diserap di lokal hanya 1-2% dari modal sendirinya, karena itu harus direasuransikan lagi ke luar negeri.
"Peningkatan modal itu sangat penting krn seperti di Malaysia 1 perusahaan reasuransi itu dimiliki oleh berbagai perusahaan asuransi sehingga masalah modal tidak berat karena dimiliki banyak perusahaan asuransi, sehingga tidak terjadi defisit pembayaran reasuransi," paparnya.
(dnl/qom)











































