Dari 140 lebih lembaga multifinance yang tergabung dalam asosiasi perusahaan pembiayaan Indonesia (APPI) hanya 3 yang sudah bergabung.
Demikian disampaikan oleh Ketua Umum APPI Wiwie Kurnia dalam acara seminar nasional persaingan perusahaan pembiayaan dalam era inflasi tinggi, di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (22/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wiwie menambahkan masalah data yang tidak sinkron yang dimiliki oleh multifinance itu disebabkan karena masih banyak data nasabah yang tidak riil, karena umumnya memakai atas nama dari orang tua nasabah atau kelengkapan data yang jumlahnya sangat banyak. "Kalau perlu ada sistem penomoran, biar mudah," katanya.
Sementara itu Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad mengatakan sudah seharusnya lembaga pembiayaan bekerjasama dengan BI dan mengakses data nasabah yang tersedia di BI. Sehingga perusahaan multifinance bisa dengan mudah mengetahui rekam jejak calon nasabahnya.
"Di BI ini ada pusat data nasabah, data siapa saja yang telah mendapat pembiayaan, sudah ada 60 juta nasabah database mulai dari yang rendah sampai yang tinggi," katanya.
Muliaman menambahkan bahwa tidak bisa dipungkiri perusahaan multifinance sangat sensitif terhadap kemampuan daya bayar masyarakat yang dipengaruhi oleh kondisi makro. "Sehingga dengan kondisi makro ekonomi yang volatile yang tinggi perlu kehati-hatian," serunya.
"Sarana ini bagus untuk lembaga pembiayaan paling tidak menjaring nasabah yang track record-nya yang baik. Sumber informasi yang baik sebagai penyaring awal," jelas Muliaman.
(hen/ddn)











































