Undang-undang itu akan memberi angin segar bagi perusahaan mortgage raksasa Fannie Mae and Freddie Mac dan menyediakan dana hingga US$ 300 miliar untuk membantu para pemilik rumah yang bermasalah dalam pembayaran kreditnya.
Seperti dikutip Reuters, Minggu (26/7/2008), senat AS meloloskan undang-undang ini melalui hasil voting 72-13. Undang-undang ini disetujui oleh House of Representatives pada Rabu lalu. Dan Presiden AS George W Bush akan segera menandatangani beleid ini meskipun keraguan menyelimuti apakah undang-undang ini bisa membantu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan yang terakhir kena dampak krisis mortgage adalah Fannie Mae and Freddie Mac, perusahaan mortgage terbesar di AS. Pemerintah Bush pun langsung bereaksi dengan mengeluarkan draf undang-undang penyelamatan Fannie Mae and Freddie Mac.
Departemen Keuangan AS dan Bank Sentral (Federal Reserve) sebelumnya mengumumkan berbagai kebijakan untuk memberikan pinjaman uang dan membeli sahamnya jika diperlukan untuk Freddie Mac dan Fannie Mae.
Rencana ini diperlukan untuk menenangkan investor, setelah harga saham kedua perusahaan itu anjlok hingga 40% pekan lalu akibat ketakutan akan ambruknya perusahaan.
Fannie dan Freddie memiliki atau menjamin utang senilai US$ 5 triliun, atau separuh dari nilai pembiayaan perumahan AS. Bank-bank asing, terutama dari Asia menguasai US$ 979 miliar surat berharga dan surat berharga berbasis hipotek.
Sementara itu seperti dikutip AFP, Departemen Keuangan AS telah menutup 2 bank lagi karena krisis ini.
Depkeu AS mengambil alih First Heritage Bank of Newport Beach di California, dan First National Bank of Nevada yang berbasis di Reno, Nevada. Kedua bank itu itu mengalami kesulitan modal. Dua bank itua akhirnya diakusisi oleh Mutual of Omaha Bank.
"Ke-28 kantor cabang milik kedua bank akan dibuka lagi sebagai cabang dari Mutual of Omaha Bank," demikian pernyataan dari Lembaga Penjamin Simpanan AS.
(ddn/ddn)











































