Sebanyak 40 juta masyarakat Indonesia masih kekurangan akses terhadap pelayanan keuangan karena mereka tinggal di area terpencil dan hambatan terbesarnya adalah geografis.
Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam "The Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008" di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Bali, Senin (28/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga gagal untuk bertumbuh. Mereka hanya menyediakan servis perbankan yang sangat dasar. Kebanyakan kredit mikro disalurkan melalui kelompok masyarakat yang kemudian bubar setelah dana dicairkan. Jadi para peminjam tidak mempunyai sumber saat membutuhkan modal dadakan," urai Presiden.
Dengan perkembangan perekonomian dunia yang tidak terlalu menggembirakan akibat lonjakan harga minyak dan pangan, menurut presiden, masalah-masalah kredit tersebut di atas tak bisa dibiarkan.
"Bank Dunia memrediksi jika tren harga minyak dan makanan berlanjut, kita akan melihat 100 juta kembali ke kemiskinan. 33 negara akan mengalami goncangan politik dan sosial. Dan target MDGs akan mundur 7 tahun. Kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, tidak saat ini," imbuhnya.
Menurut presiden, kredit mikro memainkan peran besar dalam kebijakan baru ini. Kredit mikro akan menjadi solusi yang sangat kritis dalam menghadapi kemiskinan karena dengan kredit mikro bisa menurunkan kemiskinan, menjamin keberlanjutan pertumbuhan dan menjembatani jurang pembangunan.
(qom/ir)











































