Entaskan Kemiskinan, SBY Belajar dari Grameen Bank

Entaskan Kemiskinan, SBY Belajar dari Grameen Bank

- detikFinance
Senin, 28 Jul 2008 21:54 WIB
Entaskan Kemiskinan, SBY Belajar dari Grameen Bank
Jimbaran - Presiden SBY mengaku dirinya banyak belajar dari Grameen Bank yang dirintis oleh Prof Muhammad Yunus. Presiden belajar banyak tentang cara membantu kaum miskin keluar dari kemiskinan dari keteladanan prof Yunus.

"Banyak yang saya timba dari pengalaman Grameen Bank, dari pengalaman Prof. Muhhamad Yunus, tentang pilihan-pilihan atau metodologi bagaimana bisa membantu kaum miskin keluar dari kemiskinannya dengan cara melakukan usaha mikro dengan pinjaman yang bersifat mikro pula," urai presiden.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden usai menerima kunjungan Prof Yunus di Bali Interconinental Hotel, Senin (28/7/2008). Kedua tokoh itu menghadiri acara Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008 yang berlangsung di Bali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami melakukan perbincangan yang mendalam bersama para menteri terkait untuk saling bertukar pikiran tentang langkah-langkah teknis ,dan kegiatan-kegiatan nyata untuk mengurangi kemiskinan utamanya melalui pemberian kredit mikro," jelas Presiden seperti dikutip dari situsnya.

Kepada Prof Yunus, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia terus mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk mengurangi kemiskinan serta mengembangkan kredit usaha kecil dan menengah.

"Saya sampaikan pada beliau tadi, bagi yang sangat miskin konsep Indonesia memang adalah safety-net, bantuan langsung," ungkapnya.

Namun menurut presiden, untuk masyarakat yang lebih berdaya tapi belum berdaya benar, maka pemerintah membantunya dengan program pemberdayaan masyarakat untuk membangun infrastruktur di komunitas itu, yang diperlukan oleh mereka dan dibangun mereka sendiri.

"Dan ketiga, yang baru kita kembangkan sejak tahun lalu dan ternyata klop dengan pemikiran Prof. Yunus adalah Kredit Usaha Rakyat atau mikro kredit yang progresnya cukup baik," imbuh presiden.

Dalam pertemuan tersebut, presiden juga menjelaskan bahwa untuk kegiatan-kegiatan tersebut diatas, memang manjadi tanggung jawab pemerintah. Misalnya pemberian bantyan langsung, program pengurangan kemiskinan yang dananya diambil dari APBN.

Namun menurut presiden, ada hal-hal tertentu yang sebaiknya tidak perlu dilakukan oleh pemerintah dan sebaiknya dilakukan oleh pihak lain.

"Tapi ada kegiatan yang sepenuhnya non-pemerintah atau swasta, termasuk yang ada di Indonesia, bank-bank milik negara yang lebih bisa berhubungan langsung dengan usaha mikro, kecil dan menengah," jelasnya.

"Saya sependapat betul dengan cara-cara itu, sehingga biarlah masyarakat kita lebih tumbuh jiwa kewirausahaannya. Biarlah bank-bank kita itu berhubungan langsung dengan mereka. Dengan demikian kepemilikan, tanggungjawab dan semangat untuk menjalankan usaha yang maju dan berhasil lebih tinggi lagi, daripada pemerintah langsung menangani masalah teknis," pungkas presiden.

Sebagai tuan rumah, lanjut SBY, Indonesia sungguh bersyukur dan senang. "Mudah-mudahan konferensi ini menghasilkan sesuatu yang betul-betul dapat dilakukan segera untuk membantu rakyat miskin. Saya berharap delegasi Indonesia yang hadir dalam summit ini juga dapat menimba pengalaman. Kita tidak usah malu belajar dari pengalaman negara lain yang terbukti sukses karena mereka juga belajar dari pengalaman kita," tandas SBY.

Mendampingi Presiden SBY saat menerima Muhammad Yunus adalah Menko Kesra Aburizal Bakrie, Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani dan Mensesneg Hatta Rajasa. (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads