Kepala Bappenas Paskah Suzetta menjelaskan, jika BI melakukan kebijakan moneter ketat apalagi dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan, maka bisa membuat suku bunga perbankan naik hingga 20-21 persen.
"Saya minta BI tidak melakukan TMP, sangat berbahaya. Bisa-bisa suku bunga perbankan naik jadi 20-21%. Menjelang 2009, kalau bisa SBI nggak lebih dari 8 persen," katanya dalam keterangan pers di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (4/8/2008).
Paskah menjelaskan, pihaknya mengaku khawatir jika GWM dinaikkan sehingga suku bunga perbankan melonjak, maka akan terjadi kemacetan di sektor riil.
"Makanya saya harap BI tidak mengendalikan inflasi dengan pengetatan uang, BI tetap harus beri prioritas pada hal yang sifatnya ekonomi masyarakat. Kalau pakai policy tradisional akan susah," ujarnya.
Bank Indonesia saat ini terus menggodok perubahan karena aturan yang sekarang dinilai sudah tidak relevan. Tapi BI belum mau mengumumkan kapan revisi GWM itu akan diterbitkan.
GWM adalah kewajiban menyimpan sebagian dana masyarakat yang dihimpun perbankan di BI. Ketentuannya yaitu 5% dari total dana pihak ketiga ditambah jumlah tertentu sesuai besar kecilnya rasio kredit terhadap dana pihak ketiga setiap bank.
Niat bank sentral mengetatkan uang yang beredar di masyarakat ini terlihat waktu pembahasan APBN 2009 dimana BI merencanakan suku bunganya di kisaran 9-9,5 persen.
"Ini tidak tepat. Apalagi menjelang pemilu dan lain lain, jangan lakukan TMP," tegas Paskah.
Inflasi Masih Tinggi
Paskah memang mengakui inflasi hingga akhir tahun nanti diperkirakan akan tinggi. Hal ini masih dipicu dampak kenaikan harga BBM dan kompensasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan raskin yang dinilai tidak bisa menyeimbangkan dampaknya.
Untuk sektor konsumsi saja, tercatat kenaikan harga mencapai 3-4 persen. Sementara di sektor konstruksi kenaikan harga lebih tajam lagi.
"Dengan kenaikan BBM, saya akui inflasi akan naik. BLT juga belum bisa menjaga kemampuan beli masyarakat secara menyeluruh. Dampak kenaikan BBM ini akan terasa sampai Maret 2009 " jelasnya.
Inflasi yang tinggi pada akhir tahun juga akan didorong permintaan yang meningkat saat bulan puasa, Lebaran, dan Natal.
(ddn/ir)











































