Berdasarkan data BI, jumlah BPR yang pada Mei 2008 mencapai 1811 menurun menjadi 1790 pada Juni 2008.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Pengembangan BPR dan UMKM BI Khairul Anwar dalam jumpa pers yang dilakukan di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Jumat (8/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khairul mengatakan, jumlah BPR dari tahun ke tahun memang terus turun. Jika pada tahun 2005 jumlahnya mencapai 2.009 unit, maka pada tahun 2006 jumlahnya turun menjadi 1.880 dan tahun 2007 turun lagi menjadi 1.817.
Pada kesempatan yang sama Direktur Kredit BPR dan UMKM BI Ratna E. Amiaty mengatakan saat ini memang masih terdapat BPR yang masih tidak efisien dalam menjalankan bisnisnya.
"Karena itu BPR perlu untuk kita efisienkan sehingga kekuatannya makin baik, likuiditas dijaga agar tetap sustain. Kita juga mendorong ke arah konsolidasi," tuturnya.
Kemudian, Khairul mengatakan selain mendorong konsolidasi BPR, BI juga mendorong pertumbuhan jumlah BPR ke luar Jawa Bali.
"Saat ini kita tahu perkembangan ekonomi di luar Jawa Bali sedang meningkat, para bupati harusnya terdorong untuk membangun BPR di daerahnya sehingga pelaku usaha kecil dapat terbantu," katanya.
Data BI mengatakan hingga Juni 2008 total aset dari seluruh BPR yang ada adalah sebesar Rp 3,31 triliun. Sementara total outstanding kredit mencapai Rp 23,877 triliun dengan jumlah debitur 2.627.940.
Total tabungan pada hingga Juni 2008 adalah RP Rp 6,6 triliun dan deposito adalah sebesar Rp 13,551 triliun. Besaran CAR 22,68%, LDR mencapai 82,55%. Untuk NPL gross adalah 7,35% dan NPL net sebesar 4,12%.
Hingga Juni 2008 data opersebaran BPR memang banyak terdapat di Jawa-Bali yang berjumlah 1.354 dan di luar Jawa-Bali sebanyak 436.
(dnl/qom)











































