Â
Total laba bersih setelah pajak dan provisi selama semester I-2008 turun 60% menjadi Rp 150 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 375 miliar.
Direktur Treasury Bank Lippo, Gottfried Tampubolon mengatakan, penyebab utama kinerja yang lebih rendah ini akibat dari marked to market yang terjadi karena volatilitas pasar dalam portofolio pendapatan tetap Bank Lippo, yang mayoritas berupa obligasi pemerintah.
"Kami menghadapi semester pertama yang penuh tantangan tahun ini karena pasar masih mengalami dampak negatif akibat krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat, diperburuk oleh kondisi inflasi yang tinggi karena kenaikan harga energi yang tinggi. Walaupun demikian, kami percaya bahwa kondisi ekonomi makro akan berangsur-angsur membaik dalam semester kedua tahun ini. Kami terus optimistis atas prospek dari bisnis kami dalam jangka pendek dan seterusnya," kata Gottfried dalam siaran pers, Sabtu (16/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara pertumbuhan kredit menguat sebesar 61% year-on- year (YoY) menjadi Rp 24,584 triliun secara konsolidasi untuk periode tahun buku yang berakhir 30 Juni 2008.
Portofolio kredit Bank Lippo terdiri dari 40% kredit komersial/SME, 31% kredit korporasi dan 29% kredit consumer (termasuk piutang pembiayaan yang disalurkan melalui PT Kencana Internusa Artha Finance, anak perusahaan Bank Lippo).
"Ini adalah tahun ke-4 berturut-turut dimana portofolio kredit LB tumbuh lebih dari 50% year-on-year, mencerminkan komitmen LB terhadap tanggung jawab intermediasinya untuk mendukung perekonomian. Penekanan pada pemberian kredit kepada segmen konsumen dan UKM telah dan akan terus berkelanjutan," kata Presiden Direktur dan CEO, Henk Mulder.
Aset Bank Lippo pada akhir periode semester I-2008 mencapai Rp 41,377 triliun, meningkat 11% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi kewajiban, Total Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13% YoY menjadi Rp 33,439 triliun. Komposisi dana murah Bank Lippo tetap kuat, dimana giro dan tabungan keduanya menyumbang 66% dari total DPK.
Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga mengakibatkan peningkatan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) dari 52% di semester I-2007 menjadi 73% di semester I-2008. Rasio NPL kotor dari 1,7% di semester I-2007 menjadi 1% di semester I-2008, jauh di bawah batas maksimum 5% yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Chief Financial Officer Thila Nadason mengatakan Bank Lippo berhasil memperbaiki rasio NPL kendati portofolio kredit tumbuh lebih dari 50% dengan menjalankan prinsip kehati-hatian dalam manajemen resiko kredit dan tata kelola perusahaan.
Kinerja Capital Adequacy Ratio (dengan memperhitungkan risiko pasar) menurun dari 24,5% pada akhir semester I-2007 menjadi 17,1% pada akhir semester I-2008, disebabkan kuatnya pertumbuhan kredit. (ir/ir)











































