Hal tersebut disampaikan pengamat ekonomi dari INDEF, Aviliani dan Iman Sugema disela-sela seminar yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (19/8/2008).
"Kredibilitas (BI) pasti akan terpengaruh karena kasus yang satu saja belum selesai, sudah ada lagi yang baru," ujar Aviliani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Aviliani mengakui sejauh ini kasus-kasus yang menimpa BI tidak mempengaruhi kinerja otoritas moneter tersebut. Apalagi hadirnya Boediono sebagai Gubernur BI diharapkan membantu pemulihan nama BI.
"Kasus-kasus di BI tidak mempengaruhi kinerja, Gubernurnya apalagi kan baru, pak Boediono. Tapi mengenai kasus-kasus di masa yang lalu ini memang tidak menutup kemungkinan kredibilitas BI akan terganggu. Kalau mengenai kinerja sejauh ini Gubernur sudah mendapatkan kepercayaan dari pasar dan tidak menimbulkan gejolak," urai Aviliani yang juga komisaris BRI ini.
Baik Aviliani dan Iman Sugema meminta agar KPK segera mengurai benang kusut berbagai masalah di BI, dan juga berbagai instansi pemerintah lainnya.
"Karena itu untuk KPK juga kita minta untuk bisa memperbaiki sistem di pemerintahan, bukan hanya di BI tapi di instansi-instansi lain pasti juga ada," imbuh Aviliani.
"KPK jangan tanggung-tanggung, karena BI sudah diobok-obok sekarang. Untuk membersihkannya, diamputasi saja semua penyakitnya dengan menggeret semua yang terlibat. Sehingga terlahir BI yang baru dan bersih," tambah Iman.
Kepada Boediono, Aviliani berpesan agar bisa membuka diri untuk memberitahukan kasus-kasus di masa lalu ke KPK. Sehingga kredibilitas BI bisa terjaga.
Seperti diketahui, kepada KPK, Agus mengaku uang panas tersebut dibagi-bagikan melalui teman satu komisinya waktu itu Dudhie Makmun Murod (anggota Komisi XI waktu itu), di ruang kerja teman satu fraksinya yang juga Ketua Komisi IX saat itu, Emir Moeis.
Sebenarnya isu money politics saat penentuan Deputi Gubernur Senior BI yang akhirnya dimenangkan oleh Miranda Goeltom sudah lama berhembus. Bahkan, saat detik-detik terakhir pengambilan keputusan, ada isu salah satu calon membagikan uang Rp 35 miliar kepada salah satu pimpinan fraksi besar.
Miranda kala itu sukses mengalahkan 2 calon lainnya untuk memperebutkan kursi DGS BI yang ditinggalkan Anwar Nasution. Kedua pesaing Miranda adalah Budi Rochadi yang sebelumnya menjabat Kepala Perwakilan BI dan Hartadi A Sarwono yang kini menjabat Deputi Gubernur BI. (qom/ir)











































