Hal ini dikatakan oleh pengamat ekonomi Aviliani dalam seminar yang diadakan oleh ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (19/8/2008).
"Kalau kenaikan suku bunga hingga di atas 9% sangat berat bagi perbankan dan masyarakat karena jangan sampai pertumbuhan kredit yang mencapai 30% pada semester I-2008 ini gagal karena meningkatnya NPL bank," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertumbuhan kredit semester I-2008 melonjak tinggi karena pertumbuhan di sektor utility dan juga penyerapan kredit infrastruktur yang mulai meningkat," ujar Aviliani yang juga komisaris BRI ini.
Dia menuturkan tingkat LDR rata-rata bank pada semester I-2008 meningkat menjadi 73,3% dibandingkan periode yang sama 2007 yang sebesar 63,57%.
"LDR ini sangat signifikan pertumbuhannya dan masih baik, meskipun kenaikan di kredit konsumsi, kartu kredit mendominasi karena keuntungannya besar, KUR juga signifikan karena ada jaminan dari pemerintah yang membuat bank ekspansif. Ke depan yang perlu diperhatikan adalah sustainibility," paparnya.
Aviliani mengatakan untuk pertumbuhan ekonomi kinerjanya akan bagus tetapi belum bisa menurunkan tingkat kemiskinan sehingga belum berkualitas.
Β
"Kinerja ekspor impor juga perlu diwaspadai karena impor sudah lebih tinggi dan dikhawatirkan munculnya gejala deindustrialisasi, karena industri semakin tidak berkompetisi. Kita belum punya industri yang kompetitif meskipun ada 11 komoditas yang jadi industri unggulan," katanya. (dnl/ir)











































