Bank Kesulitan Gaet Dana Masyarakat

Bank Kesulitan Gaet Dana Masyarakat

- detikFinance
Sabtu, 23 Agu 2008 12:57 WIB
Bank Kesulitan Gaet Dana Masyarakat
Jakarta - Perbankan mulai kesulitan untuk menarik dana masyarakat akibat sulitnya kondisi likuiditas rupiah saat ini. Apalagi begitu banyak instrumen yang ditawarkan saat ini, yang memberikan imbal hasil menggiurkan.

Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Gatot M. Suwondo mengatakan untuk menarik dana murah dari masyarakat, perseroan menawarkan suku bunga dan produk tabungan yang menarik bagi nasabah.

"Untuk funding dari Juli kita adjust terus (suku bunga) karena market memang lagi seret, supaya kita tidak ketinggalan. Kita melihatnya saat ini memang pasar lagi seret. Sedangkan yang mau withdraw di kita cukup banyak, itu yang kita hadapi." ujarnya di sela diskusi di Hotel Imperial Aryaduta, Karawaci Tangerang, Jumat (22/8/2007) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu Deputy GM BNI Bambang Irawan mengatakan BNI memang berencana untuk memperkuat komposisi tabungan pada tahun ini.

"Penambahan rekening tabungan adalah 10 ribu per bulan, target total tabungan sampai akhir tahun adalah Rp 56 triliun. Saat ini sulit mencapatkan pendanaan dari institusi dibandingkan dari individu." tuturnya.

Selain itu, Gatot mengatakan kenaikan BI Rate hingga sampai 9% saat ini memang memberatkan nasabah kredit karena bank harus mengikuti kenaikkan BI Rate tersebut.

"Kalau bunga kredit naik maka jadi beban bagi nasabah juga. Dia lagi melakukan adjust terhadap perubahan dari harga minyak, walaupun sedikit bobot komponennya tapi tetap cost-nya naik," ujarnya.

Meskipun begitu Gatot mengakui kenaikkan suku bunga kredit yang telah dilakukan perseroan tidak berdampak kepada kenaikan kredit bermasalah (NPL), malah besarannya turun.

"Saat ini malah (NPL) membaik jadi 7,5% dari 8,6% di kuartal I-2008. Karena disamping kita tumbuh, kita juga tekan NPL. Suku bunga korporasi saat ini 10%, sementara usaha menengah 11-12%, itu kemarin sudah kita adjust sedikit," tuturnya.

Dia mengatakan permintaan kalangan perbankan agar BI tidak kembali menaikkan BI Rate karena memberatkan perbankan dinilai Gatot cukup realistis.

"Karena minyak sudah turun, lalu inflasi juga katanya sudah akan menurun lalu buat apa menaikkan kembali (BI rate). Tapi BI mungkin takut akan terjadi capital outflow. Jadi itu memang tergantung kepentingan masing-masing, yang satu jagain inflasi dan nilai tukar dari moneter, dari fiskal butuh untuk defisit anggaran. Kalau jaga inflasi menarik uang lewat SBI, jadi bank terjepit," paparnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads