Demikian dilaporkan oleh Biro Hubungan dan Studi Internasional, Direktorat Internasional Bank Indonesia (BI) dalam situs BI, Senin (1/9/2008).
"Investor dunia cenderung menjauhi aset yang dikategorikan berisiko, termasuk obligasi korporasi dunia dan obligasi negara berkembang," tulis laporan tersebut
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yield obligasi global negara G-3 dalam triwulan kedua 2008 berada dalam tren naik, meski akhirnya melemah di akhir triwulan.
Peningkatan yield obligasi global G3, sebagai instrumen safe haven, antara lain disebabkan oleh membaiknya sejumlah indikator ekonomi dunia (khususnya inflasi dan pertumbuhan yang lebih baik dari prakiraan) sehingga meningkatkan kepercayaan investor akan membaiknya prospek ekonomi.
Minat investor akibatnya cenderung bergeser dari instrumen safe haven ke instrumen dengan tingkat risiko lebih tinggi seperti halnya pasar saham.
Pada paruh kedua Juni 2008, yield obligasi negara G-3 mulai mengalami penurunan. Besarnya kekhawatiran akan tekanan inflasi dan proyeksi kerugian perusahaan keuangan internasional pada akhir triwulan II-2008 kembali menekan tingkat kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi dunia.
Kondisi ini menahan minat investor untuk menanamkan dananya pada high yield securities dan kembali meningkatkan permintaan terhadap obligasi negara G-3.
Sejalan dengan pergerakan yield negara-negara G-3, yield obligasi global negara berkembang juga cenderung naik. Peningkatan yield didorong oleh kekhawatiran terhadap daya tahan ekonomi negara berkembang dalam menghadapi melemahnya permintaan dunia dan tekanan inflasi global.
Di tengah keseimbangan pasokan-permintaan yang ketat, harga komoditas dunia melonjak tajam juga karena besar besarnya dana yang mengalir ke pasar tersebut.
Namun di aspek syariah, semakin banyak investor melirik pasar keuangan syariah setelah melihat relatif bagusnya ketahanan pasar tersebut di tengah gejolak pasar keuangan dewasa ini.
(ddn/ir)











































