Mengelola Keuangan Setelah Tak Lagi Jadi Pekerja

Mengelola Keuangan Setelah Tak Lagi Jadi Pekerja

- detikFinance
Jumat, 09 Sep 2011 11:09 WIB
Mengelola Keuangan Setelah Tak Lagi Jadi Pekerja
Jakarta - Saya bapak dua anak balita. Setelah 5 tahun bekerja di dunia penerbangan di bagian pengadaan spare parts pesawat terbang, akhirnya saya memutuskan untuk mundur dan memulai usaha sendiri dengan bidang yang sama.

Alhamdulillah sampai saat ini semua lancar dan saya memperoleh keuntungan yang cukup lumayan setiap bulannya. Hanya saja sampai saat ini setelah 4 tahun mandiri, saya masih belum bisa mengatur keuangan pribadi saya.

Saya ingin di hari tua saya memiliki dana hari tua yang cukup mengingat sekarang status saya bukanlah karyawan lagi. Saya juga ingin memiliki jaminan kesehatan untuk saya dan keluarga (istri dan anak), serta asuransi pendidikan buat putra-putri saya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, untuk keperluan semua itu, saya hanya punya satu tabungan. Pertanyaan saya, perlukah setiap pos keinginan saya itu dibuat tabungan secara terpisah? Sebenarnya, berapa persenkah sebenarnya yang harus saya sisihkan setiap bulannya dari keuntungan usaha saya selama ini untuk mendukung pos-pos tersebut? Perencanaan keuangan seperti apa yang mesti saya siapkan untuk mendukung semua itu? Terima kasih.

Agung, Solo

Jawaban:

Pak Agung yang saya hormati,

Selamat Pak, bapak sudah melalui tahapan yang paling sulit untuk berpindah Quandran (meminjam istilah Rober Kiyosaki) dari seorang pegawai menjadi seorang wirausaha alias bisnis man. 4 tahun yang bapak lalui sudah cukup membuktikan bahwa usaha bapak berjalan lancar, akan tetapi bapak seharusnya mempunyai target bahwa diakhir tahun ke 5 usaha bapak sudah bisa berjalan sendiri (dijalankan oleh orang lain) tanpa bapak harus terlibat lagi 100%.

Akan tetapi banyak sekali masyarakat yang terbawa euphoria menjadi seorang pengusaha melupakan fundamental yang harus dipersiapkan sebelum memulai usaha mereka yang akan mempengaruhi Perencanaan Keuangan keluarga mereka. Adapun Sebuah Perencanaan Keuangan sederhana yang harus bapak lakukan sebelum memulai suatu usaha adalah sebagai berikut:

1.Bapak harus memiliki dana darurat atau dikenal dengan istilah emergency fund. Dana ini adalah sejumlah dana yang besarannya antara 6 bulan sampai 12 bulan kebutuhan bulanan bapak yang disimpan didalam rekening tabungan terpisah. Dana ini hanya dipakai untuk keadaaan darurat alias genting.

2.Belilah asuransi baik asuransi jiwa maupun kesehatan. Untuk jiwa cukup polis asuransi untuk bapak dan istri sedangkan kesehatan (terutama rawat inap) bapak harus memiliki untuk seluruh anggota keluarga.

3.Setelah itu barulah bapak mempersiapkan keranjang-keranjang investasi misalnya Dana Pendidikan Anak, Dana Pensión, Dana Perluasan Usaha atau membuka usaha baru, Dana Naik Haji, membeli aset (rumah, mobil dll).

Untuk dana pendidikan anak bapak dapat berinvestasi secara langsung ke produk investasi seperti Reksa Dana, dan yang sekarang marak adalah menggunakan Asuransi sebagai produk investasi khususnya untuk pendidikan anak. Hal ini sah-sah saja akan tetapi harus diingat bahwa masing-masing produk memiliki kelebihan dan kekurangan, dengan nominal yang sama kelemahan dari asuransi pendidikan adalah tidak maksimalnya hasil investasi yang bisa bapak dapatkan dibandingkan investasi yang mirip seperti di Reksa Dana.

Yang harus bapak perhatikan adalah menghitung kebutuhan dana pendidikan tersebut. Kemana bapak ingin menyekolahkan anak bapak, hitung berapa besar biaya pendidikan sekarang, kemudian dengan kenaikan inflasi tahunan hitung biaya pendidikan tersebut kelak. Hal detil tersebut sering dilupakan oleh banyak orang. Padahal detil tersebut yang akan membedakan berapa besar biaya yang harus dipersiapkan. Dari situ bapak dapat mencadangkan besaran dana pendidikan yang harus bapak persiapkan.
Untuk dana pensiun terdapat beberapa cara yang dapat bapak lakukan.

Sayang sekali saya tidak mendapatkan gambaran berapa usia bapak sekarang untuk melihat apakah persiapan dana pensiun masih bisa dilakukan. Dana pensiun dapat dilakukan apabila jarak usia bapak sekarang sampai ke target pensiun bapak masih tersedia cukup waktu (idealnya diatas 15 tahun). Dana pensiun menjadi penting dan sering terlupakan karena umumnya perusahaan kecil (UMKM) belum memberikan benefit berupa dana pensiun bagi pemilik dan karyawan perusahaannya.

Apabila target pensiun bapak kurang dari jangka waktu itu alias terlalu mepet maka bapak dapat mengandalkan dana pensiun dari usaha yang sudah bapak jalankan sekarang atau usaha baru baik itu perluasan dari usaha sekarang atau benar-benar jenis usaha baru.

Seperti yang sudah saya sebutkan diawal, usahakan diakhir tahun ke 5 usaha bapak idealnya sudah dapat berjalan sendiri alias dijalankan oleh orang-orang kepercayaan bapak. Dengan kata lain mulai dari sekarang sudah waktunya bapak mencari orang-orang kepercayaan untuk melanjutkan usaha bapak. Karena kalau masih mengandalkan bapak dalam menjalankan usaha tersebut maka belum dapat disebut sebuah bisnis. Dengan cara seperti ini Insya Allah bapak dapat pensiun dengan nyaman dan kecukupan dana yang akan tetap mengalir dari usaha bapak.
 

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads